Showing posts with label revolusi PSSI. Show all posts
Showing posts with label revolusi PSSI. Show all posts

Monday, April 13, 2009

Munaslub PSSI Dihadiri Wakil AFC dan FIFA

Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PSSI yang akan digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, 19-21 April 2009 akan dihadiri oleh wakil FIFA dan AFC.

Meski demikian, rapat akbar untuk mengesahkan pedoman dasar (PD) baru itu tidak akan berlanjut ke pemilihan kepengurusan baru.

Hal ini disampaikan oleh Sekjen PSSI, Nugraha Besoes saat ditemui di kantornya, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).

Menurut Nugraha, saat ini PSSI sedang gencar-gencarnya melakukan sosialisasi pedoman dasar baru yang akan dibahas pada munaslub nanti.

”Sentralisasi sudah dilakukan ke hampir seluruh daerah. Kebanyakan daerah sebenarnya sudah pernah mendapat sosialisasi tentang pedoman dasar ini,” kata Nugraha kepada wartawan.

Pedoman dasar yang telah disesuaikan dengan Statuta FIFA ini rencananya akan disahkan pada munaslub nanti. Acara tersebut rencananya akan dihadiri oleh dua orang wakil AFC dan satu wakil FIFA. Menurut Nugraha mereka hadir untuk menyaksikan langsung iklim demokrasi di PSSI.

”Saya lupa namanya. Namun mereka sudak confirm untuk datang. Mereka ingin menyaksikan langsung suasana demokratis di munaslub nanti,” kata Nugaraha.

Mengenai kemungkinan adanya pemilihan pengurus baru, PSSI tak ingin terburu-buru. Nugraha mengatakan munaslub nanti hanya berfungsi untuk mengesahkan pedoman dasar baru. Mengenai pemilihan pengurus baru baru mereka lakukan setelah mendapat perintah dari FIFA.

”Konsentrasi sementara hanya untuk pengesahan pedoman dasar baru saja. Setelah itu selesai baru kita tanya FIFA apakah perlu memilih pengurus baru atau tidak,” kata Nugraha

Friday, March 27, 2009

Refleksi 1 Tahun Revolusi PSSI

tak terasa satu tahun sudah sebuah demo "pemberontakan" para suporter indonesia dilangsungkan. tepat 25 maret tahun yang lalu 200an orang yang menamakan dirinya KSI ( Kelompok Suporter Indonesia ) mengelar sebuah demonstrasi di 3 titik ibukota. yang pertama di patung kuda indosat depan Monas. kemudian di depan kantor menegpora dan yang terakhir didepan kantor PSSI. ada 7 tuntutan kala itu yang disuarakan oleh teman teman suporter.
1. Pergantian ketua umum dang penggurus PSSI yang bersih dari kepentingan bisnis dan
politik.
2. peningkatan kinerja wasit baik kualitas mupun moral
3. format sistem kompetisi yang terprogram dan konsisten
4. standarisasi pemain asing baik kualitas teknik maupun mental
5. peningkatan profesionalisme panpel
6. pembinaan suporter yang damai kreatif atraktif dia atas landasan sportifitas
7. sistem pembinaan klub yang terencana dan konsisten

mari mengevaluasi 7 tuntutan kawan kawan KSI diatas.
1. Untuk Point pertama ini sepertinya memang sulit, kita lihat dalam munaslub nanti pasti NH akan kembali berkuasa, karena memang kuat pengaruhnya.
2. Wasit menjadi salah satu faktor dalam kemajuan sepakbola kita, ketegasan dan komitmennya untuk tidak bisa "dbeli" menjadi kunci sebuahpertandingan berlangsung fair play. Sebuah berita dari sumber yang dipercaya, Wasit harus dibayar 15 Juta dulu oleh tim tamu agar dia bersikap netral. bayangkan 15 juta baru untuk bersikap netral, lantas bagaimana kalau tidak dibayar? atau berapa bayak harus mengeluarkan duit utnuk memenangkan tim tamu ? AH... Uang,,,,,,, masih bisa membeli moral kita.
3. Sistem kompetisi yang amburadul masih terjadi walau sudah bernama liga super. penundaan demi penundaaan sering kali terdengar dan sudah biasa terjadi.
4. Langkah pembatasan gaji pemain asik merupakan sebuah dua keping mata uang, di satu sisi keuntungan buat tim untuk bisa mengontrol pengeluaran keuangan nya. tapi disisi lain maukah para legiun asing yang berkualitas bagus mau merumput dinegara yang dibatasi gaji nya.
5. Panpel kadang masih tidak profesional, mengijinkan Suporter lawan dengan kuota yang banyak untuk meraih keuntungan banyak tapi tidak menambah jumlah keamanan. wajar jika ada chaos. di satu sisi panpel juga sering menolak kedatangan Suporter tamu padahal kedua kubu suporter baik baik saja. contoh panpel persis PSS yang menolak kedatangan slemania.
6. Suporter adalah garda terdepan untuk mengwal sepakbola indonesia ini. suporter cerdas, mandiri dan independen adalah perwujudan dari semngat untuk memajukanb bola negeri ini.
7.Dengan kesulitan dana yang melanda beberapa klub, banyak juga emain muda / yunior "dikarbitkan" untuk masuk tim senior. ini merupakan langkah bagus jika tetap dipelihara.

Monday, February 02, 2009

Rudy Tak Minta Ampunan Nurdin

Maraknya penghapusan sanksi yang dikeluarkan PSSI ternyata tak membuat Ketua Umum Persis F.X Hadi "Rudy" Rudyatmo ikut-ikutan minta ampunan. Rudy menegaskan tidak akan meminta keringanan atas hukuman yang diberikan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kepada dirinya.

Rudy dikenai sanksi larangan berkecimpung di dunia sepak bola nasional selama dua tahun lantaran sikap Persis yang tak mengikuti ajang Copa Indonesia IV. Saat ini sejumlah pelaku sepak bola di tanah air yang dikenai sanksi komdis malah mendapat pengampunan dari Ketum PSSI Nurdin Halid.

Namun, Rudy tetap akan tak mengindahkan sanksi tersebut. Sejak diberlakukannya sanksi itu, Rudy tetap mendampingi Persis saat berlaga di kandang sendiri. Dia bahkan tiga kali duduk di bench pemain cadangan saat Laskar Samber Nyawa (julukan Persis) menjamu Persema Malang, Persekabpas Pasuruan, dan PSS Sleman.

''Silakan beri saya sanksi. Dengar-dengar, sanksi saya ditambah satu tahun lagi. Jadi, totalnya tiga tahun saya tidak boleh mendampingi Persis. Saya tetap tidak akan menanggapinya, apalagi banding,'' ujar Rudy kemarin (31/1).

Kabar tersebut tidak membuat Rudy takut. Sebab, hukuman larangan mendampingi Persis tiga tahun tidak akan dilalui. Sebab Rudy tinggal menyisakan waktu dua tahun lagi untuk menjadi ketum Persis. ''Lucu kalau hukuman ditambah, tapi masa jabatan saya sudah habis dalam dua tahun lagi. Terus sisa hukuman satu tahun dibebankan kepada siapa?'' bebernya.

Disinggung soal dihapusnya sanksi beberapa pemain dan pengurus klub dari PSSI, Rudy tak menghiraukannya. ''Dulu komdis sudah memanggil saya. Tapi, saya tak mau datang karena memang hukuman itu sangat aneh, apalagi sekarang muncul keanehan-keanehan lainnya,'' bebernya.

Dia menganggap, penghapusan hukuman beberapa pelaku sepak bola, termasuk PSIR Rembang, sangat aneh. Dia menilai, PSSI tidak konsisten dengan penghapusan sanksi yang sudah dijatuhkan komdis kepada PSIR Rembang. ''Kalau memang sudah dijatuhi sanksi, ya sudah. Jangan malah kemudian dihapus setelah sanksi dijatuhkan,'' terang dia. [im/nan/ko/jawapos]

Monday, January 12, 2009

Apa kabar Sepakbola Indonesia

Seorang sahabat di daerah jawa timur, suatu saat pernah aku tanya soal kenapa webnya tidak pernah di isi dengan tulisan yang berbau sepakbola nasional, terutama dnegan PSSI nya, jawabnya simple, Capek mas. “saya dah berkali kali menulis soal NH dan PSSi nya tetapi makin lama kondisi persepakbolaan Indonesia makin terpuruk, entah bahasa apa yang bisa menggambarkan keadaan ini. Bangun suporter itu nama web dia, beberapa bulan bahkan hamper satu tahu terakhir saya tidak melihat ada tulisan baru disana, padahal sebelumnya web ini adalah bacaan rutin saya selain web pak bambang. Setali tiga uang dengan web bangun supporter, Web dedengngkot blog wonogiri tersebut juga jarang sekali di Update.

Benarkah sepakbola Indonesia sudah tidak mempunyai daya pikat untuk ditulis, terpuruknya kondisi timnas, PSSI yang makin aneh statusnya, Regulasi kompetisi yang kacau dan selalu di undur – undur. Semakin membuat keengganan untuk menuliskan tentang sepakbola nasional. Tapi kalau bukan kita siapa lagi, demikian gumam saya, hitam putih nya sepakbola kita sebagai warga Negara Indonesia kita terutama saya tetap kan terus mendukungnya.

Kompetisi lokal yang diundur
Keanehan jadwal dari BLI membuat euphoria masyarakat pecinta bola nasional semakin terasa enggan untuk dating ke stadion karena tidak jelasnya jadwal, berkali – kali BLI melakukan hal yang serupa dari tahun ketahun, ketidak profesionalan ini membuat sepakbola Indonesia akan susah bersaing di tingkat internasional.

Timnas yang Minim Prestasi
Target timnas tahun ini gagal total, ketika mereka menargetkan untuk minimal masuk ke final Piala AFF namun di semifinal mereka kandas di tangan Thailand. Eforia merah putih yang hadir di senayan serasa tidak menjadikan timnas makin semangat, entah karena faktor ketidakjelasan kompetisi yang membuat hal – hal tersebut terbawa ke Tim nas. Menghadapi Australia tanggal 28 Januari nanti, GBK mungkin tidak akan terpadati oleh para supporter merah putih, tapi semoga saja tidak.

PSSI yang Tidak jelas Statusya
Dari awal tahun 2008 hingga akhir tahun 2009 Status NH yang tidak jelas makin memperunyam sepakbola tanah air. Exco seolah – olah ingin melegalkan NH menjadi ketua PSSi samapai akhir jabatannya, padahal jelas FIFA mengultimatum PSSI agar segera merevisi statutanya, sampai tahun 2009, sepakbola kita tidak jelas siapa “bapaknya” wajar jika sepakbola kita makin terpuruk

Sunday, January 04, 2009

Pertahankan Nurdin, Munaslub PSSI Dibuat Eksklusif

Berharap Nurdin Halid tetap menjadi ketua umum PSSI, rencana menggelar Munaslub dibuat eksklusif.
Oleh Yuslan Kisra
Meski batas waktu yang diberikan federasi sepakbola dunia (FIFA) kepada PSSI untuk segera menggelar musyawarah nasional luar biasa (Munaslub), guna melakukan pergantian kepengurusan yang sesuai dengan stuta FIFA telah lewat pada 24 Desember silam, otoritas sepakbola nasional sepertinya belum bergeming.

Bahkan dengan penuh percaya diri, sekjen PSSI Nugraha Besoes menyatakan optimistis tidak akan ada sanksi pa pun dari FIFA terhadap PSSI. Menurutnya, selama ini hanya media saja yang terlalu agresif memberitakan mengenai ultimatum FIFA. Padahal sesungguhnya tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan karena semuanya masih berjalan sesuai rule.

Hanya saja, induk organisasi sepakbola nasional mulai menerapkan pasal-pasal eksklusif yang terkesan kurang membuka kemungkinan pihak luar menjadi ketua umum PSSI. Salah satu pasal tentang pengurus PSSI yang diajukan ke FIFA, kabarnya menyebutkan, untuk duduk sebagai ketua umum, seseorang harus aktif dalam kepengurusan selama lima tahun secara beruntun. Hal tersebut merujuk pada article 32 composition dari FIFA.

Agak aneh memang karena sepertinya artikel ini sedikit dipelintir. Sebab dalam standar statuta FIFA sendiri sebenarnya tak menyatakan demikian. Sesuai dengan statuta yang diminta FIFA untuk diratifikasi oleh anggotanya itu hanya disebutkan, setiap calon anggota komite eksekutif (Exco) dan ketua umum pengurus organisasi di negaranya, harus pernah aktif di kepengurusan. Tapi tidak disebutkan batas minimal waktunya.

Dengan memberikan batas waktu selama lima tahun itu, secara otomotis bakal mengunci kesempatan bagi calon lain yang ingin menduduki kursi ketua umum PSSI. Terlebih calon yang berasal dari luar organisisasi terbesar di tanah air ini. Parahnya, karena kebijakan seperti itu sudah pasti mengembalikan Nurdin Halid menduduki kursi ketua umum, padahal FIFA tidak mengakuinya karena pernah terlibat kasus kriminal dan membuatnya dua kali mendekam di balik jeruji besi.

Tapi lagi-lagi pengurus harian PSSI berkilah jika persepsi tindakan kriminal yang berlaku di FIFA berbeda dengan kasus kriminal umum. Mereka bahkan dengan tegas menyatakan jika kasus korupsi yang dilakukan Nurdin tidak masuk kategori kriminal di mata FIFA. Sebab tidak terjadi di lingkup sepakbola. Dengan begitu, pria asal Makassar ini masih bisa kembali memimpin PSSI. Apalagi karena yang bersangkutan sudah bebas dari penjara.

Sikap "keras kepala" memang terus diperlihatkan PSSI terhadap ultimatum FIFA. Seolah tidak peduli dengan ancaman suspended dari otoritas sepakbola tertinggi di dunia itu, PSSI masih terus menari-nari dengan berbagai argumennya. Padahal FIFA telah menghapus nama Nurdin sebagai ketua umum PSSI, yang merupakan satu bukti keseriusan mereka untuk memberikan sanksi kepada sepakbola Indonesia.

1