Showing posts with label Pasoepati. Show all posts
Showing posts with label Pasoepati. Show all posts

Friday, March 27, 2009

Refleksi 1 Tahun Revolusi PSSI

tak terasa satu tahun sudah sebuah demo "pemberontakan" para suporter indonesia dilangsungkan. tepat 25 maret tahun yang lalu 200an orang yang menamakan dirinya KSI ( Kelompok Suporter Indonesia ) mengelar sebuah demonstrasi di 3 titik ibukota. yang pertama di patung kuda indosat depan Monas. kemudian di depan kantor menegpora dan yang terakhir didepan kantor PSSI. ada 7 tuntutan kala itu yang disuarakan oleh teman teman suporter.
1. Pergantian ketua umum dang penggurus PSSI yang bersih dari kepentingan bisnis dan
politik.
2. peningkatan kinerja wasit baik kualitas mupun moral
3. format sistem kompetisi yang terprogram dan konsisten
4. standarisasi pemain asing baik kualitas teknik maupun mental
5. peningkatan profesionalisme panpel
6. pembinaan suporter yang damai kreatif atraktif dia atas landasan sportifitas
7. sistem pembinaan klub yang terencana dan konsisten

mari mengevaluasi 7 tuntutan kawan kawan KSI diatas.
1. Untuk Point pertama ini sepertinya memang sulit, kita lihat dalam munaslub nanti pasti NH akan kembali berkuasa, karena memang kuat pengaruhnya.
2. Wasit menjadi salah satu faktor dalam kemajuan sepakbola kita, ketegasan dan komitmennya untuk tidak bisa "dbeli" menjadi kunci sebuahpertandingan berlangsung fair play. Sebuah berita dari sumber yang dipercaya, Wasit harus dibayar 15 Juta dulu oleh tim tamu agar dia bersikap netral. bayangkan 15 juta baru untuk bersikap netral, lantas bagaimana kalau tidak dibayar? atau berapa bayak harus mengeluarkan duit utnuk memenangkan tim tamu ? AH... Uang,,,,,,, masih bisa membeli moral kita.
3. Sistem kompetisi yang amburadul masih terjadi walau sudah bernama liga super. penundaan demi penundaaan sering kali terdengar dan sudah biasa terjadi.
4. Langkah pembatasan gaji pemain asik merupakan sebuah dua keping mata uang, di satu sisi keuntungan buat tim untuk bisa mengontrol pengeluaran keuangan nya. tapi disisi lain maukah para legiun asing yang berkualitas bagus mau merumput dinegara yang dibatasi gaji nya.
5. Panpel kadang masih tidak profesional, mengijinkan Suporter lawan dengan kuota yang banyak untuk meraih keuntungan banyak tapi tidak menambah jumlah keamanan. wajar jika ada chaos. di satu sisi panpel juga sering menolak kedatangan Suporter tamu padahal kedua kubu suporter baik baik saja. contoh panpel persis PSS yang menolak kedatangan slemania.
6. Suporter adalah garda terdepan untuk mengwal sepakbola indonesia ini. suporter cerdas, mandiri dan independen adalah perwujudan dari semngat untuk memajukanb bola negeri ini.
7.Dengan kesulitan dana yang melanda beberapa klub, banyak juga emain muda / yunior "dikarbitkan" untuk masuk tim senior. ini merupakan langkah bagus jika tetap dipelihara.

Friday, March 13, 2009

Pasoepati terbelah....

sebuah berita mengemparkan datang dari seorang rakan di solo, GONDRONG datang lagi ke stadion.
rasa kaget, heran, bangga, dan yang lain berkecamuk dalam dada. GONDRONG kembali lagi, dalam rangka apa? dan kenapa baru sekarang? pertanyaan itu muncul dibenak ku. kedatangan gondrong ini disambut dengan tulisan di pasoepat.net Gondrong kembali perlukah
ada pro kontra, ada yang bilang setuju ada yang tidak.

Wajar jika anyak rekan rekan yang menolak, pertanyaan pertanyaan ini yang membuat banyak rekan menolak..

Kenapa baru muncul sebelum pemilu??? ada apa???
kemana selama ini???
Tak lelah teman - teman berteriak di stadion kemana batang hidung mu???
dan apa maksud kata kata mu sebelum kompetisi di gulirkan?? tentang persis yang harus dibubarkan...

======
info terakhir, hari ini di sriwedari gondrong menjadi dirigen bersama pete dan sigit. lebih lengkapnya kita lihat berita di pasoepati.net besok

Friday, February 20, 2009

Foto - Foto Pasoejak ketika Tour ke Sleman


foto foto tour ke sleman bisa di cek disini

klik disini

Wednesday, February 11, 2009

Politisasi Suporter

Mungkin bahasan ini sudah terlalu sering di bahas oleh rekan – rekan akan tetapi kali ini sekedar share kejadian – kejadian tentang pasoepati akhir akhir ini. Seorang rekan dari Jakarta mengirimkan sms tentang ulang tahun pasoaepati tanggal 9 kemarin disusul dengan ucapan tentang doa restu salah satu pentolan pasoepati untuk bisa lolos ke gedung DPR pada pemilu 2009 mendatang.

Sebuah cerita lama yang kembali mengusik ku untuk menulis ini. Sehari berselang aku SMS beberapa rekan pasoepati cyber dan jawabannya hampir semua sama, menolak menjadikan pasoepati menjadi kendaraan politik.

Dan tadi pagi aku membuat status di Facebook dengan menggunakan kata – kata yang aku kutip dari salah seorang rekan di solo yang bekerja di dunia percetakan. Pasoepati bukan kendaraan politik untuk memenangkan caleg ataupun partai tertentu dan hingga sore ini ada 17 reply dari komentar tersebut dan berikut ini adalah komentar dari rekan rekan lainnya

Aby Nacha Pasoepati pada 10:02 11 Februari

mosok to res???.... bemo po bajaj wae nek gitu kendaraane L-)

Nugroho Nur pada 10:02 11 Februari

tapi gimana , kalau anggaran suatu kesebelasan di danai oleh seseorang yang memiliki pamrih, ada lho itu , entah dia mau nyalon gubenur, walikota, atau ketua rt..hex10

Veean Laziale pada 10:22 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

Setuju !! Pasoepati Not for SALE !!

Nugroho Nur pada 10:26 11 Februari

pertanyaan saya yang sangat mendasar ris " dapet subsisdi dari menejemen persis gak ? he x10 jo nesu sek lho

Bambang Haryanto pada 10:33 11 Februari

Setuju, Arista. Tetapi untuk netral, butuh perjuangan tersendiri. Sekadar contoh, saat malam dana untuk Persis, di panggung ada nomor urut partai politik yang dianut sang ketua umum. Dan kayaknya, Pasoepati tidak bersuara tentang hal ini. Kenapa ?

Pasoepati Yogyakarta pada 10:46 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

Tak rasakrasakne sing melu2 masalah politik taek anjing kui hanya orang2 DPP Pasoepati sendiri+ Kroni.. Pasoepati Cyber pokoe anti Politik !!! Golput wae pokoe! Hehehe..

Arista Budiyono pada 11:03 11 Februari

thanks atensinya dulur terutama sang begawan blogger pak bambang.... dinamika politik memang sungguh luar biasa, suka atau tidak pusaran suporter mulai masuk kedalam ranah tersebut. Uang itu kuncinya.. mereka memerlukan dukungan kita dan kita mungkin butuh uangnya....... netral ... sebuah kata yang sangat sulit .. tapi pasoepati cyber seperti kata pakdhe veean ... bukan kambing2 yang mudah dibodohi untuk digiring ke suatu ladang politik.... pasoepati cyber say no to Fuck politik

Nugroho Nur pada 11:08 11 Februari

mudah-2 bener yang kamu omongin ris...
mudah mudahan pasoepati siang lapar dan siap sendiri....itu yang paling berat....

Arista Budiyono pada 11:10 11 Februari

seperti yang sering ditulis pak bambang... "Pasoepati kembali ke khittah" khittah pasoepati adalah suporter bukan superstar...

Handoyo Subosito pada 11:21 11 Februari

Politik dan sepakbola itu sebenarnya gak bisa d'pisahkan kok mas

Arista Budiyono pada 11:22 11 Februari

masalahnya bagaimana kita supaya tidak masuk dalam politik praktis mas handoyo

Taufiq Adi Nugroho pada 12:19 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

politik taek! sori..

Arista Budiyono pada 12:20 11 Februari

hahaha sing duwe suroboyo nesu nesu hahahhaha

Taufiq Adi Nugroho pada 12:31 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

mnurutku tdk cm pasoepati yg mengalami hal ini..d sby ada banner caleg dgn backgron bonek..mgkn d daerah lain juga ad yg spt itu..intine d mana ada massa d situlah mereka mencoba utk memanfaatkannya..

Pasoepati Yogyakarta pada 13:21 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

ak reti pex sing bok karepke! Indah kurnia tow? Wong wingi pas nang suroboyo akeh banget balihone.. Contone nang dalan A. Yani kae.. Nang sidoharjo yo ono malah?

Arista Budiyono pada 13:29 11 Februari

rekan PCSC jabodetabek malah webnya mau dibayar belasan juta oleh salah satu politisi semarang... dan dengan tegas teman teman semarang menjawab NO WAY.....

Pasoepati Yogyakarta pada 13:33 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

Pokoe kalo dah masuk dunia suporter, politik kudu ditanggalkan.. Lagian suporter juga gak bodoh! Sukawi sutari nyalon gubernur? Iwan Budi manajer Persik? Toh mereka akhirnya juga gak tercapai keinginannya?hehehe.. Jangan kira suporter bias anda beli bung !!! Loyalitas adalah Jiwa Kami!!!

Arista Budiyono pada 13:37 11 Februari

tapi ismed iskandar jadi lho dab hehehehhehewahidin juga jadi.... hahahhahaha
bener dab loyalitas untuk menjadi suporter adalah jiwa kami

Taufiq Adi Nugroho pada 13:41 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

kang vean..anda benar..hehe..biyen neng kleco y wis tau ono lho..spanduke p.bimo mburine pasoepati..py jal?wah ketoe gayenk ki..

Pasoepati Yogyakarta pada 13:53 11 Februari melalui Facebook di Ponsel

Halah? Lha kaen incumbent gubernur sumsel jadiin sfc bwt bahan kampanye tetep wae kalah?hahaha.. Saiki p.bimo yo tetep ngrangkul pasoepati, slogan BP/Bangkit Pasoepati kasat mata dimaksudke Inisial jengene?hehehe..

Lalu bagaiman dengan anda….. mengambil sikap atau tetap di giring ke sana sini tanpa kejelasan. Ayo rekan pasoepati kembali ke “khittah” kita

Monday, February 09, 2009

Ulang Tahun Pasoepati ke 9

hari ini tepat 9 tahun pasoepati didirikan, dahulu 9 Februari sekelompok orang mendeklarasikan sebuah kelompok suporter yang akhirnya kita kenal dengan pasoepati. dengan seingkatan awal adalah Pasukan Suporter pelita sejati, akan tetapi seiring dengan waktu dan seiring dengan tidak ber home base nya pelita di di solo maka pasoepati berganti singkatan menjadi " pasaukan suporter paling sejati"

Selamat ulang tahun pasoepati, semoga makin bisa mewarnai dunia persuporteran indonesia dan terus menyebarkan virus - virus perdamaian.

================================================================================
sekedar merefleksi sejarah masa lalu kita. sejarah dimana pasoepati selalu disebut dimana mana, sejarah yang saat ini sirna, sejarah yang selalu jadi nosatalgia kalau kita suporter kreatif. terus saja di dengung dengung kan kalau kita suporter kreatif. ya kita dulu memang selalu atraktif tapi itu dulu berbeda jauh dengan sekarang. tulisan ini saya copi dari situs pak bambang haryanto sebagai perenungan sebagaii pembelajaran buat kita pasoepati era ke 3 (setelah pelita, persijatim kemudian persis ) pasoepati jangan dulu kebakaran jenggot dengan isi tulisannya karena itu adalah sebuah cerminan diri kita (buruk muka cermin dibelah) jadikan ini semua semangat, pelecut, tonggak sebuah pemikiran pemikiran revolusioner baru.
Sandyakalaning Pasoepati

Oleh : Bambang Haryanto
Nelson Mandela punya ujaran, sepakbola merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia. Ujaran Mandela terbukti di Solo tahun 2000, saat tim elit Liga Indonesia asal Jakarta, Pelita Bakrie, memutuskan ber-home ground di Solo. Namanya pun berubah jadi Pelita Solo.

Tanggal 9 Februari 2000 lahirlah kelompok suporternya, bernama Pasukan Soeporter Pelita Sejati (Pasoepati). Sinergi Pelita Solo dan Pasoepati saat itu menjadi gairah baru yang mempersatukan publik bola Solo dan sekitarnya. Pasoepati adalah hasil akal budi seorang praktisi periklanan Solo, Mayor Haristanto. Ia mengambil prakarsa ketika tak ada wong Solo berani jemput bola guna membangun organisasi suporter ketika publik bola Solo terserang eforia karena tiba-tiba hadir tim elit Liga Indonesia di kotanya. Dengan menunggangi gairah warga Solo yang meluap, dipadu sinergi cerdas dengan media massa lokal dan nasional, Pasoepati meroket menjadi meteor di kancah persepakbolaan nasional.

Dengan mengusung tagline revolusi citra baru suporter sepakbola Indonesia, dicoba dibangun kelompok suporter yang juga penghibur di stadion-stadion. Bersemboyan menjunjung tinggi sportivitas dan anti kekerasan, virus Pasoepati menyebar ke seluruh Indonesia. Mayor sendiri, sebagai Presiden Pasoepati, kemudian ikut membidani lahirnya kelompok suporter cinta damai, The Macz Man yang pendukung PSM di Makassar, Asykar Teking yang suporter PSPS di Pekanbaru dan juga kelompok suporter Manado.

Saat itu, saya sebagai Menteri Media dan Komunikasi Pasoepati, mengibaratkan fenomena Pasoepati seperti kisah dongeng sup batu. Kata sahibul hikayat, terdapat dua orang menaruh kuali besar di atas tungku yang menyala, di tengah alun-alun kota. Dalam kuali dimasukkan air dan sebutir batu. Sejurus kemudian dua orang itu segera mengaduk-aduk “masakan”-nya secara sungguh-sungguh dan bersuka ria.

Lalu datanglah orang ketiga. Ia penasaran, ingin tahu apa yang dikerjakan oleh dua orang yang tampak riang tadi. Ia diberitahu bahwa mereka berdua sedang memasak sup yang lezat, tetapi saat itu masih kekurangan wortel. Orang ketiga itu pun pulang. Ia datang kembali membawa wortel yang segera dituangkan ke dalam kuali. Ia pun segera ikut mengaduk-aduknya.

Orang berikutnya datang menyumbang kubis, loncang, seledri, garam, minyak, penyedap rasa, kaldu, daging, dan keperluan sup lainnya. Adonan tersebut makin lama memang terasa menguarkan aroma yang menggugah selera.

Warga Solo, seperti dongeng di atas, saat itu bersemangat memberi (to give) untuk Pasoepati. Meminjam teori Maslow (1954) mengenai hirarki kebutuhan hidup manusia, yang saya rasakan di Pasoepati pada saat itu adalah menggebunya keinginan warga Solo berhimpun guna terpenuhinya kebutuhan tingkat ketiga, yaitu ingin memiliki-dimiliki dan cinta.

Mereka bersemangat untuk berinteraksi dalam Pasoepati guna terbukanya peluang membina persahabatan, memperoleh pengakuan, memiliki identifikasi kelompok dan rasa memiliki sesuatu tujuan bersama. Bahkan pada beberapa individu sudah merambah ke pemenuhan kebutuhan tingkat empat, yaitu kebutuhan terhadap penghargaan, rasa bangga karena memiliki keahlian, prestasi dan prestise dan pemenuhan tingkat kelima dari piramida Maslow, yaitu kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Kalau tesis Maslow dipadu dengan teori Miller dan Sjoberg (1973) mengenai gaya hidup manusia yang meliputi pekerjaan, hiburan dan hubungan antar manusia, maka Pasoepati adalah perwujudan jenis hiburan tingkat dua. Kalau tingkat pertama seperti menonton televisi, yang pasif, maka hiburan tingkat kedua ini merupakan rekreasi, revitalisasi atau peremajaan diri. Hiburan jenis ini menuntut orang aktif berperanserta untuk mengobarkan semangat, membangkitkan enerji baru, melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan waktu senggang.

Tur-tur keluar kota dan aktivitas Pasoepati yang diperkaya lagu tema dan tagline , misalnya From Solo With Love ketika tur 6/4/2000 menaklukkan Surabaya sampai Pasoepati Embrace The World : I’d Like To Teach The World To Sing pada acara Hut II Pasoepati 9/2/2002 dan peluncuran CD Pasoepati untuk dikirim ke FIFA, Malaysia dan Singapura, sekadar ilustrasi bagaimana Pasoepati mengemas diri sebagai suporter dan entertainer. Buahnya adalah liputan media yang masif, mampu memuaskan ego warganya, bahwa eksistensi dan aksi mereka mendapat pengakuan.

Bulan madu warga Solo dengan Pelita Solo dan Pasoepati, redup tahun 2001. Karena penyandang dananya, konglomerat Bakrie, mengalami kesulitan keuangan, Pelita Solo memutuskan bergabung klub Krakatau Steel di Cilegon, tahun 2001. Kekosongan di kota gila sepakbola ini diisi dengan kehadiran tim Persijatim, asal Jakarta Timur.

Pada tahun yang sama Mayor mengundurkan diri dari Presiden Pasoepati. Untuk memuluskan perpindahannya ke Solo, fihak Persijatim memberikan konsesi kepada pengurus Pasoepati yang baru, yang dijabat oleh Satryo Hadinagoro-Bimo Putranto, menjadi panitia pelaksana pertandingan (panpel) Persijatim di Stadion Manahan.

Mulailah kepribadian Pasoepati mendapat ujian berat. Pada awal berdiri, saya ikut memimpikan bahwa bahwa Pasoepati adalah lembaga hiburan dan wisata yang berkeanggotaan cair, sirkulasi kepemimpinannya seperti formasi burung bangau terbang dan sebagai wahana untuk belajar berorganisasi dan berdemokrasi. Tetapi dengan berstatus sebagai panpel, terutama ketika uang ikut bermain, ketika kedudukan adalah fasilitas, saya tahu bahwa impian awal saya tentang Pasoepati sudah memudar.

Jiwa Pasoepati pun terbelah, karena kini ada perbedaan kasta pada dirinya. Ada Pasoepati yang mendapat bayaran versus Pasoepati yang membayar. Tanpa disadari, sejak itu Pasoepati ibarat melakukan harakiri. Ketidakadilan ini memang tidak keras disuarakan oleh warganya, tetapi mereka mengambil aksi cerdas : hari demi hari semakin susut drastis kehadiran mereka di stadion Manahan.

Mengambil lagi tesis Maslow, karena pengurusnya bekerja untuk uang, berpamrih (to get ), maka kini motif mereka berkiprah dalam Pasoepati menjadi merosot pada piramida Maslow tingkat terbawah. Yaitu pemenuhan kebutuhan fisiologis manusia yang bersifat primitif, meliputi rasa lapar dan haus, kebutuhan yang relatif sederhana, mementingkan diri sendiri, tetapi sekaligus yang paling pokok untuk mendukung kelangsungan hidup itu sendiri.

Dampak yang lain, akibat uang orang berusaha mempertahankan kedudukan. Status quo. Sehingga tidak ada lagi sirkulasi dalam organisasi, tak ada sirkulasi kreasi, yang ada adalah kemandekan.

Itulah gambaran aktual Pasoepati saat ini., ketika masa jabatan Satryo Hadinegoro-Bimo Putranto mendekati akhir. Pasoepati yang dulu dominan memerahkan stadion Manahan, sudah menjadi masa lalu. Kini hanya puak-puak sporadis dan tidak lagi bernyanyi. Panpel pun menuai kerugian.

Ditambah isu mengenai tidak stabilnya kondisi keuangan Persijatim, bahkan tawaran pengambilalihan induk /pemilik tim Persijatim (yaitu klub Bina Taruna) oleh investor Solo juga tidak mendapat respons memadai dari fihak Pemerintah Kota Solo, membuat hengkangnya Persijatim dari Solo tinggal pula menghitung hari.

Ujaran Nelson Mandela bahwa sepakbola sebagai pemersatu, mungkin nanti hanya tinggal kenangan indah bagi publik Solo.

Bambang Haryanto, warga Pasoepati, Sekjen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli yang tercatat MURI.

Thursday, January 29, 2009

Slemania jemput Pasoepati di Prambanan

Rombongan Pasoepati Solo yang hendak menyaksikan bentrok antara Persis Solo lawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (29/1), akan dijemput Slemania di Prambanan.

Penjemputan dilakukan guna menghindari kemungkinan bentrok dengan suporter PSIM Yogyakarta, Brajamusti.
”Kami sudah berkoordinasi dengan Slemania dan mereka sanggup menjemput kami di perbatasan Jateng-DIY di Prambanan. Hal itu dilakukan guna menghindari gangguan dari oknum yang mencoba membuat kisruh, misalnya Brajamusti,” ujar Wakil Sekjen Pasoepati Solo, Adhy Fajar kepada Espos di Solo, Rabu (28/1).
Menurut dia, saat ini hubungan antara Pasoepati dengan Brajamusti tidak harmonis menyusul berbagai kejadian yang terjadi di masa silam. Hal itu, kata dia, berbeda hubungan antara Pasoepati dengam Slemania yang selama terjalin dengan baik, meski saat PSS bertandang ke Stadion Sriwedari di putaran pertama, Panpel Solo tidak memberikan kuota.
Pada bentrok PSS melawan Persis sore ini, ujar Adhy, Panpel PSS memberi kuota kepada Pasoepati sebanyak 8.000 orang. Untuk itu Pasoepati telah membuka pendaftaran tur ke Sleman dengan memberitahukan hal itu ke berbagai koordinator wilayah (Korwil).
Diharapkan Kamis pagi ini seluruh Korwil telah memberi laporan jumlah peserta yang akan ikut kepadanya, sehingga memudahkan koordinasi. ”Sampai sore ini hampir 1.000 orang telah mendaftarkan diri ikut ke Sleman. Kalau total yang akan ikut baru akan kami ketahui besok (hari ini), karena teman-teman di Korwil belum semua lapor.”
Dukungan
Rencananya rombongan Pasoepati itu akan berangkat ke Sleman menggunakan berbagai kendaraan di antaranya, truk, sepeda motor, bus dan sebagainya. Secara resmi mereka akan berangkat bersama-sama dengan berkumpul terlebih dahulu di pintu selatan Stadion Manahan Solo.
Secara terpisah Presiden Pasoepati, Satryo Hadinagoro mengatakan pihaknya siap mendukung Laskar Sambernyawa saat menghadapi PSS. ”Kami siap membesarkan Persis. Apalagi sekarang Pasoepati sudah kembali ke khitah yaitu sebagai suporter sejati. Karena itu sekarang Pasoepati tidak terlibat dalam kepanitiaan.”
Dia juga menyatakan rasa terima kasihnya kepada Slemania yang dinilai tetap menghormati Pasoepati. - Oleh : ian

Tuesday, January 27, 2009

Slemania Siap Sambut Pasoepati

Slemania patut mendapatkan acungan jempol. Dengan berbesar hati, kelompok pendukung PSS Sleman itu memberikan kesempatan kepada Pasoepati, kelompok suporter Persis Solo, untuk hadir pada laga PSS versus Persis di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 29 Januari mendatang.

Kuotanya pun lumayan banyak, 8.000 orang. Jumlah tersebut nyaris sepertiga dari kapasitas stadion milik PSS yang mencapai 30 ribu tempat duduk itu. Padahal, panpel Persis tidak memberikan jatah kepada Slemania untuk hadir di Stadion Sriwedari, Solo, pada putaran pertama Kompetisi Divisi Utama 2008/2009 lalu.

"DPP Pasoepati sudah mendapatkan kuota dari panpel dan Slemania 8.000 orang," ujar Narno Gempar, koordinator tur Pasoepati, kepada Radar Solo (Jawa Pos Group) kemarin (26/1).

Pemberian kuota itu diterima DPP pada Minggu (25/1). Melalui koordinasi kedua belah pihak, akhirnya disepakati pendukung Persis diberi jatah 8.000 orang. Hasil koordinasi lainnya, Pasoepati dijatah duduk di tribun selatan gawang dengan harga tiket Rp 10 ribu.

Sayang, Pasoepati belum memutuskan berapa jumlah anggotanya yang akan dikirim ke Sleman. Mereka sepertinya masih kaget dengan besarnya kuota yang diberikan Slemania. Untuk menindaklanjuti pemberian kuota tersebut, rencananya DPP akan mengundang seluruh korwil Pasoepati. Mereka nanti akan mendata siapa saja yang akan ikut berangkat.

Hingga kini pihak DPP belum mengantongi nama-nama anggota Pasoepati yang turut mendukung Persis ke Sleman. Sebab, pendaftaran dilakukan sebatas di tingkat korwil. [im/nan/diq/jawapos]

Thursday, December 18, 2008

Bakrie Brothers dan Efek Domino Sepakbola Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Terpuruk di sini. Sidoarjo ikut kena dampak krisis keuangan global. Yang menjadi korban terutama mereka yang sudah tergusur, tercerabut dari tanah tercinta, akibat tanah dan rumahnya terbenam lumpur panas Lapindo. Demo mereka ke Jakarta untuk menuntut pembayaran tuntas ganti rugi, nampaknya sia-sia. Fihak Lapindo berkilah, seperti dikutip oleh BBC, krisis keuangan global telah membuat pembayaran ganti rugi itu tersendat.

Radio BBC (19/11/2008) juga mewartakan hal lain : perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, Bumi Resources, sahamnya anjlok menjadi hanya sebesar Rp. 900-an per saham. Dalam sebulan, harga sahamnya terpangkas lebih dari lima puluh persen.

Lalu, apa hubungannya kedua berita buruk itu dengan sepakbola Indonesia ? Kedua perusahaan yang sedang bermasalah itu, baik Lapindo mau pun Bumi Resources, dimiliki oleh konglomerat Bakrie Brothers. Sedang salah satu pemilik konglomerat itu adalah Nirwan Darmawan Bakrie. Dalam peta sepakbola nasional ia boleh disebut sebagai orang kedua paling berkuasa, sesudah Nurdin Halid, dengan jabatan sebagai Ketua Badan Liga Sepakbola Indonesia (BLI).

Mental sepakbola melayu. Wartawan olahraga Kompas, Yesayas Octovianus (20/2/2006 : 31) pernah menyoroti peran dominan Nirwan di tubuh PSSI. Merujuk nama-nama pejabat yang menangani tim nasional dua tahun yang lalu itu, Yesayas menyebutnya sebagai “koncoisme” yang kental. Misalnya, untuk manajer timnas U-23, telah muncul nama Rahim Sukasah. Nama ini 15 tahun lalu adalah bos klub Pelita Jaya, yang tidak lain milik Bakrie Brothers juga.

Nirwan Bakrie, kita tahu, pernah membidani proyek mercusuar dengan Tim Primavera yang dibentuk di Genoa, Italia. Proyek ambisius ini disebut Yesayas sebagai proyek yang gagal total. Nirwan mengulangi lagi dengan mengirim timnas U-23 dengan pelatih yang eks pemain Pelita Jaya juga, Bambang Nurdiansyah, ke Belanda. Hasilnya ? Saya telah menulis surat pembaca dengan judul “Hancurnya Sepakbola Melayu” di Koran Tempo (22/11/ 2006) atau dua tahun yang lalu sebagai berikut :

Tim nasional Indonesia di bawah umur 23 tahun digunduli 6-0 di penyisihan sepakbola Asian Games 2006 di Qatar. Padahal mereka sempat berlatih 4 bulan, menghabiskan biaya 28 milyar rupiah di Belanda. Asisten pelatih Bambang Nurdiansyah seperti dikutip wartawan Kompas, Syamsul Hadi, yang ditanyai oleh BBC (20/11) mengabarkan bahwa Ferry Rotinsulu dan kawan-kawan itu bermain dengan “gaya sepakbola Melayu, bukan sepakbola Eropa.”

Apa yang ia maksud sebagai sepakbola Melayu ? Perlu penjelasan lebih lanjut. Yang pasti, dalam pertandingan tersebut dua pemain kita kena kartu merah dan enam pemain kena kartu kuning. Itukah cerminan “sepakbola Melayu” yang berarti pemain-pemain kita tidak mengindahkan peraturan bermain sepakbola yang berlaku secara universal ?

Tanggal 6/11/2006, di Solo, saya mewawancarai Ponaryo Astaman, kapten timnas senior kita, terkait pernyataan dia yang juga pernah dikutip oleh BBC. Kata Ponaryo, sepanjang menjadi pemain sepakbola dirinya tidak pernah sama sekali memperoleh sosialisasi mengenai pelbagai peraturan dalam bermain sepakbola.

Para pemain kita, ujarnya lebih lanjut dan bagi saya sangat mengherankan, mematuhi peraturan bermain sepakbola hanya berdasar pengalaman dan instink masing-masing pribadi, yaitu ketika mereka memperoleh hukuman dari wasit. Realitas yang memprihatinkan !

Hancurnya timnas U-23 di ajang Asian Games 2006 antara lain akibat hukuman dua kartu merah dan enam kartu kuning, walau mereka berlatih di Belanda 4 bulan sekali pun, hanya menunjukkan bahwa mengubah teknik dan mental pesepakbola kita bukan hal yang bisa dilakukan secara instan. Sikap mental suka ambil jalan pintas yang dianut para petinggi PSSI, terutama yang memiliki pendekatan bahwa uang menentukan segalanya, kini terantuk oleh bukti kegagalan yang benar-benar nyata. Uang bukan segala-galanya, Bung Nurdin Halid dan Bung Nirwan Bakrie. Selamat berintrospeksi.


Bitter taste of sugar daddy ! Ide-ide instan model Primavera di atas, tidak lain merupakan perwujudan sikap para sugar daddies, bos besar yang banyak uang, dalam mencoba meraih sesuatu prestasi. Upaya yang cenderung mengingkari hukum alam itu hanya memiliki satu konsekuensi yang pasti : kegagalan. Tetapi prestasi internasional memang bukan impian para petinggi PSSI itu. Tabloid BOLA (21/3/2006) mengutip pernyataan Nirwan Bakrie bahwa, “Inilah sepakbola, meski prestasi timnas kita kurang bagus, tetap saja liga tak pernah sepi.”

Ia mungkin memang benar, bahwa sepakbola kita nampak tak pernah sepi. Tetapi fondasi liga itu semata mengandalkan pada komporan sikap-sikap primordial. Fanatisme kedaerahan yang sempit. Suporter-suporter kita ibarat dipasangi kacamata kuda dengan kebanggaan tim daerahnya.

Mereka tidak tahu bahwa diri mereka ibarat boneka yang tali-talinya digerakkan dari Senayan, untuk keuntungan finansial yang mengalir kembali ke Senayan. Bila pun ada sepuluh atau seratus suporter yang mati konyol akibat bentrokan antarsuporter, hal itu dianggap sebagai hal yang “baik-baik saja” bagi rejim oligarki sepakbola Indonesia. Sepanjang industri sepakbola domestic itu mampu mengalirkan keuntungan kepada mereka.

Kini, akibat krisis finansial global, para sugar daddies sepakbola kita itu kelimpungan. Dalam posisi keuangan yang terhuyung itu maka peran dominan mereka di PSSI, diakui atau tidak diakui, cepat atau lambat, pasti juga memiliki dampak bagi persepakbolaan nasional kita. Domino pertama menunggu jatuh.

Berita lain, walau tidak langsung terkait, kita baca bahwa untuk menyelamatkan kelangsungan tim maka klub elit Persik Kediri sekarang ini bersiap menjual para pemain asing topnya. Dari klub yang sama, kita masih ingat berita mengenai upaya salah seorang pengurusnya yang mencoba melakukan bunuh diri. Bahkan mereka memutuskan untuk tidak mengikuti Copa Indonesia. Virus yang sama juga menyebar ke Solo. Karena dicekam kekuatiran tidak mampu membiayai keikutsertaannya, Persis Solo konon juga telah memutuskan untuk mangkir dari Copa Indonesia.

Sepakbola Indonesia kini gonjang-ganjing, dibelit banyak persoalan yang rumit. Di balik buih-buih busa bahasa hiperbola yang meluncur deras dari mulut-mulut reporter dan komentator sepakbola di ANTV, stasiun televise yang juga milik Bakrie, kini kuat diduga betapa bangunan keropos persepakbolaan Indonesia tinggal menanti rubuhnya saja.

Boleh jadi krisis keuangan global dewasa ini justru merupakan tsunami yang kita nantikan kedahsyatannya, berkahnya dan sekaligus manfaatnya bagi perubahan masa depan sepakbola Indonesia. Pencinta sejati sepakbola Indonesia, mampukah kita mencari inspirasi perubahan dari seorang bekas murid sekolah dasar di Menteng, yang bernama Barack Obama ?


Wonogiri, 19/11/2008

1