Showing posts with label the jak. Show all posts
Showing posts with label the jak. Show all posts

Wednesday, April 01, 2009

ROMEO-JULIET: Cinta Sejati adalah Noda

Sepakbola menjadi magnet terbesar di belahan dunia manapun. Baik cerita di dalam lapangan hijau itu sendiri, maupun kisah-kisah di luarnya. Sepakbola yang seringkali kita pahami adalah sebuah kompleksitas antara olahraga dan bisnis. Meski demikian, realitas tak berhenti pada dua tema itu, karena bagi sebagian umat di bumi ini, sepakbola juga bercerita tentang fanatisme. Bahkan lebih dari itu, sepakbola telah menjelma menjadi keyakinan.

Film Romeo-Juliet yang mengadaptasi karya klasik William Shakespeare ini mengangkat cerita yang diinspirasi dari kisah nyata fanatisme suporter sepakbola di Indonesia. Bagi mereka, sepakbola dan klub yang dibelanya tumbuh menjadi satu keyakinan layaknya sebuah agama.

Fanatisme suporter yang berujung pada aksi kekerasan dan bentrok antarpendukung pun acapkali terjadi di belahan dunia manapun, tak terkecuali di Indonesia, negara yang prestasi tim sepakbola nasionalnya tak beranjak dari keterpurukan.
Andibachtiar Yusuf, penulis naskah dan sutradara film ini, menyatakan, “Fanatisme telah hidup dalam diri para suporter berlandaskan berbagai motif, baik yang rasional maupun yang di luar nalar. Mereka bahkan rela mati demi klub kesayangannya.”

Meski sepakbola identik dengan laki-laki, namun faktanya ribuan suporter fanatik adalah juga kaum perempuan. Pendukung Persija Jakarta melabeli para suporter perempuan mereka dengan nama Jak-Angel, sedangkan Persib Bandung memilih nama Lady Vikerz. Pada titik inilah cerita dalam film Romeo-Juliet yang diproduksi oleh Bogalakon Pictures ini menemukan rentetan konflik.

Yusuf yang sebelumnya membesut film The Conductors yang meraih penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2008, mengaku terinspirasi oleh fenomena tersebut. Menariknya, ia juga menemui banyak cerita cinta di kalangan suporter yang berakhir sedih, karena menjalin percintaan dengan suporter klub musuh. Dalam sudut pandang para suporter, jatuh cinta atau bahkan merajut tali kasih dengan suporter klub musuh merupakan hal yang haram.

Rangga (Edo Borne) adalah seorang Jakmania yang jatuh cinta pada Desi (Sissy Prescillia) yang seorang Lady Vikers. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama saat terjadi bentrokan berdarah antara Jakmania versus Viking. Rangga memutuskan untuk pergi ke Bandung untuk bertemu Desi. Bagi kawan-kawan dekatnya, kepergian Rangga ke Bandung seperti layaknya menyetorkan nyawa pada Viking. Rangga pun di-cap sebagai pengkhianat oleh para Jakmania. Sedangkan Desi mengalami penolakan keras tatkala keluarganya tahu bahwa ia menjalin kasih dengan seorang Jakmania. Apalagi Parman (Alex Komang)—kakak Desi—adalah pemimpin Viking.

Secara jenius, film ini memindahkan perseteruan kisah aslinya antara keluarga Montague dan Capulet menjadi perseteruan antara Jakmania Jakarta dan Viking Bandung, yang memang memiliki historis perseteruan yang hebat.

“Hubungan cinta mereka ditentang oleh kedua pihak, Jakmania dan Viking. Mereka memutuskan untuk lari ke tempat yang aman dari permusuhan ini. Kota Malang menjadi tujuan mereka, karena pada kenyataannya memang Aremania, pendukung Klub Arema, tidak bermasalah dengan Jakmania maupun Viking. Namun dua sejoli ini tetap dikejar untuk dipisahkan oleh para Viking,” jelas Yusuf.

Secara keseluruhan, Romeo-Juliet berhasil menggambarkan secara jitu, bahwa kisah cinta sejati dua sejoli adalah noda bagi sebuah perseteruan yang abadi. (*)

Friday, March 27, 2009

Refleksi 1 Tahun Revolusi PSSI

tak terasa satu tahun sudah sebuah demo "pemberontakan" para suporter indonesia dilangsungkan. tepat 25 maret tahun yang lalu 200an orang yang menamakan dirinya KSI ( Kelompok Suporter Indonesia ) mengelar sebuah demonstrasi di 3 titik ibukota. yang pertama di patung kuda indosat depan Monas. kemudian di depan kantor menegpora dan yang terakhir didepan kantor PSSI. ada 7 tuntutan kala itu yang disuarakan oleh teman teman suporter.
1. Pergantian ketua umum dang penggurus PSSI yang bersih dari kepentingan bisnis dan
politik.
2. peningkatan kinerja wasit baik kualitas mupun moral
3. format sistem kompetisi yang terprogram dan konsisten
4. standarisasi pemain asing baik kualitas teknik maupun mental
5. peningkatan profesionalisme panpel
6. pembinaan suporter yang damai kreatif atraktif dia atas landasan sportifitas
7. sistem pembinaan klub yang terencana dan konsisten

mari mengevaluasi 7 tuntutan kawan kawan KSI diatas.
1. Untuk Point pertama ini sepertinya memang sulit, kita lihat dalam munaslub nanti pasti NH akan kembali berkuasa, karena memang kuat pengaruhnya.
2. Wasit menjadi salah satu faktor dalam kemajuan sepakbola kita, ketegasan dan komitmennya untuk tidak bisa "dbeli" menjadi kunci sebuahpertandingan berlangsung fair play. Sebuah berita dari sumber yang dipercaya, Wasit harus dibayar 15 Juta dulu oleh tim tamu agar dia bersikap netral. bayangkan 15 juta baru untuk bersikap netral, lantas bagaimana kalau tidak dibayar? atau berapa bayak harus mengeluarkan duit utnuk memenangkan tim tamu ? AH... Uang,,,,,,, masih bisa membeli moral kita.
3. Sistem kompetisi yang amburadul masih terjadi walau sudah bernama liga super. penundaan demi penundaaan sering kali terdengar dan sudah biasa terjadi.
4. Langkah pembatasan gaji pemain asik merupakan sebuah dua keping mata uang, di satu sisi keuntungan buat tim untuk bisa mengontrol pengeluaran keuangan nya. tapi disisi lain maukah para legiun asing yang berkualitas bagus mau merumput dinegara yang dibatasi gaji nya.
5. Panpel kadang masih tidak profesional, mengijinkan Suporter lawan dengan kuota yang banyak untuk meraih keuntungan banyak tapi tidak menambah jumlah keamanan. wajar jika ada chaos. di satu sisi panpel juga sering menolak kedatangan Suporter tamu padahal kedua kubu suporter baik baik saja. contoh panpel persis PSS yang menolak kedatangan slemania.
6. Suporter adalah garda terdepan untuk mengwal sepakbola indonesia ini. suporter cerdas, mandiri dan independen adalah perwujudan dari semngat untuk memajukanb bola negeri ini.
7.Dengan kesulitan dana yang melanda beberapa klub, banyak juga emain muda / yunior "dikarbitkan" untuk masuk tim senior. ini merupakan langkah bagus jika tetap dipelihara.

1