Friday, August 29, 2008

Laga PSSI masih layakkah ditonton..?

oleh panji kartiko

Piala Kemerdekaan 2008 yang dimulai sejak 21 Agutus 2008, dengan mengundang timnas “kacangan” dari Myanmar, Kamboja, Brunei dan Libya (junior) ternyata tidak mampu dapat memancing animo para pencinta sepakbola nasional untuk datang berbondong-bondong datang ke Stadion Gelora Bung Karno Senayan.

Statement dari sang Sekjen PSSI yang mengatakan bahwa kualitas turnamen tersebut merupakan “kelas tinggi” dan masuk dalam kalender FIFA patut dipertanyakan, sebab pada awalnya saja sudah terdapat disharmonisasi antara PSSI dan Panpel. Bagian Media PSSI pernah meletupkan berita bahwa dua tim Amerika Selatan yaitu Independiente dan River Plate akan menjadi peserta turnamen Piala Kemerdekaan, yang beberapa hari kemudian dibantah oleh Panpel Penyelenggara bahwa hal tersebut tidak benar karena terbentur peraturan FIFA yang mengharuskan pemberitahuan 60 hari sebelumnya untuk setiap turnamen internasional antar benua.



Sebenarnya strategi panpel yang menghadirkan Timnas A & B sejak awal pertandingan sudah cukup benar untuk memancing antusiasme penonton, tapi sayang hal tersebut tidak berjalan sempurna karena pada laga tersebut hanya ditonton ratusan orang saja. Miris memang kalau melihat fakta tersebut diatas, kenapa turnamen internasional malah kalah dengan turnamen antar kampong (tarkam) yang dapat menghadirkan penonton atau supporter ribuan orang. Ada yang salah kalau begini jadinya ?

Kualitas promosi dari panpel piala kemerdekaan memang secara kuantitas lebih mengebu-gebu dalam melakukan startegi kampanye, dengan membuat 500 buah spanduk yang disebar di sekitar senayan serta wilayah kota Jakarta lainnya. Tapi hal tersebut hanya sekedar “macan ompong” kalau tidak dibantu dengan acara-acara kreatifitas dengan melibatkan media cetak dan elektronik. Strategi pemberian pernak-pernik timnas Indonesuia dalam pembuatan acara kuis bertemakan piala kemerdekaan dan opini terbaik bagi pembaca tabloid olahraga pernah beberapa kali penulis lakukan pada saat mengkampanyekan Piala Asia 2007, dan hal tersebut cukup efektif dengan ditambah bumbu kualitas turnamen yang cukup baik.

Strategi jitu dari PSSI yang melibatkan jajaran fans club supporter dalam diskusi dan kerjasama penggalangan massa penonton, pada laga turnamen Piala Kemerdekaan 2008 ini seakan dilupakan atau bahkan cenderung diabaikan, sehingga ada kesan PSSI tidak mau menjalin hubungan baik lagi dengan para supporter. Hal ini tentunya ditanggapi dengan negative oleh para “pentolan” supporter sehingga secara tidak langsung mereka tidak akan aktif ikut mengkoordinir pasukannya masing-masing. Bisa kita lihat sendiri minimnya spanduk-spanduk dan mobilisasi supporter fans club pada ajang Piala Kemerdekaan ini, sehingga terkesan pertandingan Piala Kemerdekaan ini hanya sebagai ajang latihan saja dan tidak ada greget atmosfir gegap gempita dukungan supporter di sepanjang pertandingan.

Tempat / venue pertandingan Piala Kemerdekaan yang dilaksanakan di Jakarta dengan kualitas peserta turnamen dengan kualitas pas-pasan tentu tidak akan mampu menarik animo penonton Jakarta yang heterogen dan kritis. Perlu dipikirkan lagi untuk memutar laga pertandingan timnas ke berbagai daerah mulai dari Semarang, Solo, DIY, Surabaya serta Malang yang mempunyai sentra masyarakat gila bola dan tentunya haus akan pertandingan sekelas Internasional yang melibatkan timnas Indonesia.

Pemilihan waktu dan hari pertandingan juga merupakan salah satu faktor penghambat animo masyarakat bola Indonesia, karena pertandingan dilaksanakan pada saat larut malam (mulai jam 18.30 dan diakhiri pertandingan terakhir s/d 23.00). Yang lucunya lagi panpel malah meniadakan pertandingan pada hari Sabtu – Minggu, padahal seharusnya pada hari tersebut panpel “gas poll” untuk menghadirkan penonton semaksimal mungkin, karena merupakan waktu kosong/ libur sehingga dapat memancing minat penonton. Tentunya masalah tersebut terjadi karena turnamen Piala Kemerdekaan ini dilaksanakan secara mendadak, atau terburu-buru (atau malah kurang serius) sehingga tidak mampu melakukan koordinasi dengan pihak pengelola stadion, sehingga stadion lagi-lagi malah disewakan pada acara non olahraga.

Untuk ukuran menghadirkan sponsor resmi sekualitas Pertamina, panpel memang patut diacungi jempol, tetapi apakah sponsor akan tertarik apabila turnamen tersebut sangat miskin akan hadirnya penonton? Meskipun hal tersebut dapat ditutupi dengan adanya siaran langsung di RCTI dan Global TV, saya rasa risiko reputasi dari turnamen sekualitas Piala Kemerdekaan tentunya akan terjun bebas kearah yang buruk, karena dianggap tidak menarik dan tidak mampu menampilkan efektivitas citra baik dari produk-produk yang ditampilkan oleh Sponsor. Jadi pertanyaan yang perlu diapungkan saat ini adalah, masih layakkah laga PSSI ditonton..??


Regards
Panji Kartiko SH
Penasehat Pasoepati Jabotabeka
Penasehat CORNEL

1