Showing posts with label PSSI. Show all posts
Showing posts with label PSSI. Show all posts

Thursday, April 30, 2009

Hasil Sidang Komdis PSSI Ke-35

Berikut beberapa keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI dari persidangan tanggal 29 April 2009 di Sekretariat PSSI, Senayan, Jakarta. Sidang ke-35 Komdis ini menghasilkan empat belas keputusan, yaitu :

1. Persikabo Kab. Bogor dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persikabo Kab. Bogor mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Copa : Persikabo Kab. Bogor vs Persijap Jepara, tanggal 20 April 2009).

2. Persik Kediri dihukum denda Rp. 45.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persik Kediri mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (ISL : PKT Bontang vs Persik Kediri, tanggal 18 April 2009).

3. PS. Arema Malang dihukum denda Rp. 20.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, PS. Arema Malang mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (ISL : Persiba Balikpapan vs Arema Malang, tanggal 18 April 2009).

4. Persis Solo dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persis Solo mendapat 5 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : Persiba Bantul vs Persis Solo, tanggal 12 April 2009).

5. Persibat Batang dihukum denda Rp. 15.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persibat Batang mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : PSSB Bireuen vs Persibat Batang, tanggal 16 April 2009).

6. PKT Bontang U-21 dihukum denda Rp. 15.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, PKT Bontang U-21 mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (U-21 : Persiba Balikpapan vs PKT Bontang, tanggal 20 April 2009).

7. PS. Arema Malang U-21 dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, PS. Arema Malang U-21 mendapat 5 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (U-21 : Persib Bandung vs Arema Malang, tanggal 20 April 2009).

8. Persiwa wamena U-21 dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persiwa Wamena U-21 mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (U-21 : PSM Makassar vs Persiwa Wamena, tanggal 16 April 2009).

9. Pertandingan Persibom Bolaang Mongondow vs Gresik United dinyatakan selesai dan Persibom Bolaang Mongondow dinyatakan kalah 0 -3 karena tidak terlaksananya pertandingan. (Div. Utama : Persibom Bolaang Mongondow vs Gresik United, tanggal 12 April 2009).

10. Pertandingan Persibom Bolaang Mongondow vs Persibo Bojonegoro dinyatakan selesai dan Persibom Bolaang Mongondow dinyatakan kalah 0 -3 karena tidak terlaksananya pertandingan. (Div. Utama : Persibom Bolaang Mongondow vs Persibo Bojonegoro, tanggal 16 April 2009).

11. Pertandingan PSIR Rembang vs Persekabpas Pasuruan dinyatakan selesai dan PSIR Rembang dinyatakan kalah 0 -3 karena tidak terlaksananya pertandingan. (Div. Utama : PSIR Rembang vs Persekabpas Pasuruan, tanggal 19 April 2009).

12. Pertandingan Persiku Kudus vs Persema Malang dinyatakan selesai dan Persiku Kudus dinyatakan kalah 0 -3 karena tidak terlaksananya pertandingan. (Div. Utama : Persiku Kudus vs Persema Malang, tanggal 19 April 2009).

13. Pertandingan Persikota Tangerang vs PSP Padang dinyatakan selesai dan Persikota Tangerang dinyatakan kalah 0 -3 karena tidak terlaksananya pertandingan. (Div. Utama : Persikota Tangerang vs PSP Padang, tanggal 16 April 2009).

14. Pertandingan Persibat Batang vs Persikad Depok dinyatakan selesai dan Persibat Batang dinyatakan kalah 0 -3 karena tidak terlaksananya pertandingan. (Div. Utama : Persibat Batang vs Persikad Depok, tanggal 20 April 2009).

Demikian beberapa keputusan Komdis pada sidangnya ke-35 yang ditandatangani oleh Ketua Komdis PSSI Hinca IP Pandjaitan, SH, MH, ACCS dan diumumkan melalui Komite Media PSSI.

Monday, April 13, 2009

Munaslub PSSI Dihadiri Wakil AFC dan FIFA

Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PSSI yang akan digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, 19-21 April 2009 akan dihadiri oleh wakil FIFA dan AFC.

Meski demikian, rapat akbar untuk mengesahkan pedoman dasar (PD) baru itu tidak akan berlanjut ke pemilihan kepengurusan baru.

Hal ini disampaikan oleh Sekjen PSSI, Nugraha Besoes saat ditemui di kantornya, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).

Menurut Nugraha, saat ini PSSI sedang gencar-gencarnya melakukan sosialisasi pedoman dasar baru yang akan dibahas pada munaslub nanti.

”Sentralisasi sudah dilakukan ke hampir seluruh daerah. Kebanyakan daerah sebenarnya sudah pernah mendapat sosialisasi tentang pedoman dasar ini,” kata Nugraha kepada wartawan.

Pedoman dasar yang telah disesuaikan dengan Statuta FIFA ini rencananya akan disahkan pada munaslub nanti. Acara tersebut rencananya akan dihadiri oleh dua orang wakil AFC dan satu wakil FIFA. Menurut Nugraha mereka hadir untuk menyaksikan langsung iklim demokrasi di PSSI.

”Saya lupa namanya. Namun mereka sudak confirm untuk datang. Mereka ingin menyaksikan langsung suasana demokratis di munaslub nanti,” kata Nugaraha.

Mengenai kemungkinan adanya pemilihan pengurus baru, PSSI tak ingin terburu-buru. Nugraha mengatakan munaslub nanti hanya berfungsi untuk mengesahkan pedoman dasar baru. Mengenai pemilihan pengurus baru baru mereka lakukan setelah mendapat perintah dari FIFA.

”Konsentrasi sementara hanya untuk pengesahan pedoman dasar baru saja. Setelah itu selesai baru kita tanya FIFA apakah perlu memilih pengurus baru atau tidak,” kata Nugraha

Friday, March 20, 2009

Hasil Sidang Komdis PSSI Ke-32

Berikut beberapa keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI dari persidangan tanggal 18 Maret 2009 di Sekretariat PSSI, Senayan, Jakarta. Sidang ke-32 Komdis ini menghasilkan dua belas keputusan, yaitu :

1. Deltras Sidoarjo dihukum denda Rp. 30.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Deltras Sidoarjo mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (ISL : Deltras Sidoarjo vs Pelita Jaya, tanggal 1 Maret 2009).

2. Johan Ibo, pemain Pelita Jaya dihukum skorsing 2 kali pertandingan karena tingkahlaku buruk memancing keributan dan memprovokasi. (ISL : Deltras Sidoarjo vs Pelita Jaya, tanggal 1 Maret 2009).

3. Djalaludin Main, pemain Pelita Jaya dihukum Peringatan Keras karena tingkah laku buruk karena menendang pemain Deltras Sidoarjo Sdr. Gustavo Chena. (ISL : Deltras Sidoarjo vs Pelita Jaya, tanggal 1 Maret 2009).

4. Gustavo Chena, pemain Deltras Sidoarjo dihukum Peringatan Keras karena tingkah laku buruk karena mendorong pemain Pelita Jaya Sdr. Djalaludin Main. (ISL : Deltras Sidoarjo vs Pelita Jaya, tanggal 1 Maret 2009).

5. Persema Malang dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persema Malang mendapat 5 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : Persibo Bojonegoro vs Persema Malang, tanggal 8 Maret 2009).

6. Panitia Pelaksana Pertandingan Persibo Bojonegoro dihukum denda Rp. 20.000.000,- + pertandingan tanpa penonton di Bojonegoro, tgl. 6 Mei 2009, Persibo Bojonegoro vs Perseman Manokwari karena penonton bertingkahlaku buruk melakukan pelemparan sehingga salah seorang ofisial Persema Malang mengalami cedera. (Div. Utama : Persibo Bojonegoro vs Persema Malang, tanggal 8 Maret 2009).

7. Henri Subagyo, Asisten Pelatih Persema Malang dihukum larangan beraktifitas di lingkungan sepakbola selama 6 bulan karena tingkahlaku buruk melempar tanah terhadap AW I. (Div. Utama : Persibo Bojonegoro vs Persema Malang, tanggal 8 Maret 2009).

8. Panitia Pelaksana Pertandingan PSAP Sigli dihukum denda Rp. 20.000.000,-karena adanya pelemparan dan keributan antara pemain pada saat selesai pertandingan (Div. Utama : PSAP Sigli vs PSSB Bireuen, 8 Maret 2009).

9. Persiraja Banda Aceh dihukum denda Rp. 15.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persiraja Banda Aceh mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : Persiraja Banda Aceh vs PSDS Deli Serdang, tanggal 9 Maret 2009).

10. PSDS Deli Serdang dihukum denda Rp. 15.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, PSDS Deli Serdang mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : Persiraja Banda Aceh vs PSDS Deli Serdang, tanggal 9 Maret 2009).

11. Persigo Gorontalo dihukum denda Rp. 15.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persigo Gorontalo mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : Persis Solo vs Persigo Gorontalo, tanggal 9 Maret 2009).

12. Persigo Gorontalo dihukum denda Rp. 20.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persigo Gorontalo mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : PSS Sleman vs Persigo Gorontalo, tanggal 13 Maret 2009).

Demikian beberapa keputusan Komdis pada sidangnya ke-32 yang ditandatangani oleh Ketua Komdis PSSI Hinca IP Pandjaitan, SH, MH, ACCS dan diumumkan melalui Komite Media PSSI.

Friday, March 06, 2009

Hasil Sidang Komdis PSSI Ke-29

Berikut beberapa keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI dari persidangan tanggal 27 Februari 2009 di Sekretariat PSSI, Senayan, Jakarta. Sidang ke-29 Komdis ini menghasilkan enam keputusan, yaitu :

1. Pelita Jaya dihukum denda Rp. 20.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Pelita Jaya mendapat 5 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (ISL : PSMS Medan vs Pelita Jaya, tanggal 4 Februari 2009).

2. Charis Yulianto dihukum skorsing 1 kali pertandingan dan denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk menginjak pemain Persik Kediri Sdr. Saktiawan Sinaga. (ISL : Sriwijaya FC vs Persik Kediri, tanggal 16 Februari 2009).

3. Persija Jakarta U-21 dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persija Jakarta U-21 mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (ISL U-21 : Persita Tangerang U-21 vs Persija Jakarta U-21, tanggal 19 Februari 2009).

4. Persiba Balikpapan U-21 dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persiba Balikpapan U-21 mendapat 5 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (ISL U-21 : Persiba Balikpapan U-21 vs Deltras Sidoarjo U-21, tanggal 16 Februari 2009).

5. Persibom Bolaang Mongondow dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, Persibom Bolaang Mongondow mendapat 5 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Div. Utama : PSIR Rembang vs Persibom Bolaang Mongondow, tanggal 16 Februari 2009).

6. PSMS Medan dihukum denda Rp. 10.000.000,- karena tingkahlaku buruk tim, PSMS Medan mendapat 4 Kartu Kuning pada satu pertandingan. (Copa : PSMS Medan vs Persiba Bantul, tanggal 20 Februari 2009).

Demikian beberapa keputusan Komdis pada sidangnya ke-29 yang ditandatangani oleh Ketua Komdis PSSI Hinca IP Pandjaitan, SH, MH, ACCS dan diumumkan melalui Komite Media PSSI.

Friday, February 27, 2009

aremania menolak grasi

langkah yang luar biasa diambl oleh rekan rekan aremania, wacana grasi yang beredar selama ini disingkapi dengan bijak oleh para aremania, mungkin di malang sendiri ada pro kontra soal hal ini, tapi sebuah email dari rekan arema membuat aku yakin, bahwa memang arema adalah teladan suporter indonesia
berikut lampiran email tersebut
KOMUNITAS SUPORTER AREMANIA

PERNYATAAN SIKAP
DASAR:
1. Bahwa upaya menegakkan hukum merupakan kewajiban setiap warga
negara dalam membangun sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Bahwa demi tegaknya hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia,
komunitas suporter AREMANIA lebih mengedepankan prinsip-prinsip
“keadilan, kesatriaan, sportivitas, dan menaati prosedur hukum yang
berlaku”.
3. Bahwa untuk merealisasikan poin 1 (satu) dan 2 (dua) di atas, AREMANIA
sebagai komunitas suporter atau pendukung tim AREMA, dengan sadar,
tertib, dan bertanggungjawab, untuk tetap patuh menjalani hukuman yang
pernah dijatuhkan oleh Komisi Disiplin Persatuan Sepak Bola Seluruh
Indonesia (PSSI) tertanggal 17 Januari 2008 yang berlaku hingga 17 Januari
2010.
Berdasarkan pemikiran dan kondisi obyektif tersebut di atas, dengan ini
komunitas suporter AREMANIA,
MENYATAKAN
1. Menolak segala bentuk pengampunan terhadap sanksi yang pernah
dijatuhkan kepada komunitas suporter AREMANIA oleh Komisi Disiplin
PSSI di luar dari prosedur hukum yang berlaku.
2. Komunitas suporter AREMANIA akan tetap berjiwa besar, satria, dan
bertanggungjawab menjalani sanksi, demi tegaknya hukum di Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
3. Menolak dengan tegas kehadiran/kedatangan Saudara Nurdin Halid dalam
kapasitas sebagai Ketua Umum PSSI di BUMI AREMA (Malang Raya),
dalam rangka pemberian pengampunan hukuman kepada Komunitas
Suporter AREMANIA.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan untuk menjadi maklum
bagi semua pihak.
Malang, 26 Pebruari 2009
TTD
Komunitas Suporter AREMANIA

Wednesday, February 25, 2009

kapolda kembali berulah.....

Polisi Tak Izinkan Laga Ulang Dua Pertandingan

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Irjen Alex Bambang Riatmodjo tidak mengizinkan pertandingan ulang antara PSIS Semarang melawan Persijap Jepara dan Gresik United (GU) melawan Persis Solo. Alex menilai Komisi Disiplin PSSI tidak menyetujui langkah pengamanan polisi dengan memutuskan laga ulang itu.

"Dengan keputusan itu, Komisi Disiplin atau Komdis PSSI tidak menginginkan pertandingan sepak bola berjalan aman," kata Alex, Selasa (24/2) di Semarang. Dia juga mengingatkan bahwa polisi memegang peran penting sebagai pemberi izin untuk setiap pertandingan sepak bola.

Komdis PSSI memutuskan pertandingan ulang karena polisi dinilai ikut campur dalam pertandingan. Sebelum laga PSIS melawan Persijap di Stadion Jatidiri Semarang, Minggu (15/2), Alex turun ke lapangan untuk menyampaikan pesan kepada penonton, pemain, dan ofisial agar tertib. Apabila ada pelanggaran yang memicu keributan, polisi tidak segan menangkap pelakunya.

Pada pertandingan antara GU dan Persis Solo di Stadion R Maladi Solo, Kamis (12/2), polisi menangkap Nova Zaenal (Persis Solo) dan Bernard Mamadou (GU). Kedua pemain itu terlibat baku hantam ketika pertandingan masih berlangsung.

"Saya hanya menyampaikan pesan. Apakah itu dianggap sebagai intervensi atau bahkan intimidasi," kata Alex. Menurut Alex, himbauan kepada publik sepak bola seperti dalam laga PSIS melawan Persijap itu merupakan prosedur umum dalam pertandingan sepak bola.

Kamis pekan lalu, Alex bertemu dengan Ketua Komisi Keamanan PSSI Ashar Suryobroto. Dalam pertemuan itu, Ashar mendukung bentuk pengamanan yang diterapkan Polda Jateng. Alex dan Ashar juga sepakat mengusulkan adanya nota kesepahaman mengenai pengamanan sepak bola antara Polri dan PSSI.

Alex juga berencana untuk menunda pertandingan di Jawa Tengah selama masa kampanye berlangsung. "Kami harus berkonsentrasi pada pengamanan pemilu. Semua pihak harus paham bahwa pertandingan harus ditunda," ujar Alex. [den/kompas]

Friday, January 23, 2009

Timnas Langsung Fokus Pada Taktik & Strategi Menghadapi Australia

Pelatih timnas Indonesia, Benny Dolo, langsung memberikan latihan taktik dan strategi kepada anak asuhannya dalam latihan perdana di Lapangan timnas PSSI, Senayan Jakarta, Kamis (22/1) sore. Benny Dolo nampaknya tidak ingin waktu yang tersisa jelang laga melawan Australia, Rabu (28/1) terbuang percuma.

“ Kita lebih mengarah kepada latihan taktik. Anda bisa lihat tadi bagaimana para pemain berlatih permainan bola pendek, angkat bola, back pass bola. Di dalam defense, latihan passing target, sprint sendiri, containing ball, screening ball,” kata Benny Dolo usai latihan.

Benny Dolo menyatakan tetap menggunakan pola 4-3-3 saat menghadapi Australia. Tidak menutup kemungkinan ia kembali menerapkan permainan defensive seperti kala menahan imbang Oman 0-0.

“ Bisa saja kita bermain defensive, namun tetap dengan perbaikan saat mencuri bola, kita harus keluar dengan kecepatan. Seperti yang kita lakukan pada babak pertama menghadapi Oman, di mana banyak peluang yang terjadi lewat Bambang dan Boaz. Intinya, kita akan bermain sesuai dengan kualitas yang kita miliki,” terang Benny Dolo

Dalam latihan tersebut, sudah diikuti oleh Ellie Aiboy dan Rachmat Latief yang baru dipanggil kembali bergabung usai timnas bermain melawan Oman. Sedangkan dua pemain lain yakni Pieter Rumaropen dan Dian Agus Prasetyo masih belum bergabung. Satu lagi pemain yang absen adalah kapten tim Charis Yulianto yang izin karena mendampingi istrinya yang akan melahirkan.

“ Saya sendiri belum tahu alasan tidak hadirnya Dian dan Rumaropen. Tapi mungkin mereka sudah memberikan informasi kepada BTN, karena BTN yang melakukan proses pemanggilan. Namun, hal tersebut tidak mengganggu persiapan kita,” ungkap Benny Dolo.

Terkait kekuatan Australia yang menurunkan pemain lapis keduanya, Benny Dolo menyebutkan bahwa kulaitas tim asuhan pelatih Pim Verbeek tersebut tetap di atas Indonesia.

“ Australia adalah tim besar. Pertandingan – pertandingan terakhir mereka sudah menggunakan pemain dari liga lokal mereka. Jangan lupa, saat Piala Asia 2007 lalu, kegagalan mereka karena memakai pemain yang bermain di Eropa,” urai Benny Dolo.

Meski begitu, Benny Dolo bukan berarti pesimis melihat peluang timnya menghadapi Australia. Ia hanya bersikap realistis. " Hasil seri tetap sesuatu yang realistis. Pada dasarnya kita tetap memiliki target untuk menang, namun kita harus realistis juga. Lebih bagus kita tertunduk dulu daripada angkat kepala tapi kena peluru di atas, tapi kalau bisa menanduk, tentu lebih bagus," tutur Benny Dolo.

Hingga saat ini, Benny Dolo masih menunggu rekaman pertandingan terakhir tim Australia. Ia sangat berharap segera mendapatkannya untuk menilai kekuatan terakhir Craig Moore dkk. Sejauh ini, Benny cukup mengetahui karakter permainan Australia yang lebih banyak memainkan bola – bola panjang. (asp)

Tuesday, January 20, 2009

Indonesia berhasil menahan Oman

OMAN, SENIN - Indonesia untuk sementara mampu menahan imbang tanpa gol tuan rumah Oman. Kedua tim yang tergabung di Grup B ini sedang melakoni laga pertama babak kualifikasi Piala Asia 2011.

Dalam laga di Sultan Qaboos Sports Complex, Senin (19/1), Oman lebih mendominasi pertandingan. Disaksikan puluhanribu suporternya, tim besutan Claude Le Roy ini yang baru saja menjuarai Piala Teluk, terus membombardir pertahanan Indonesia.

Namun, gempuran Ismail Al Ajmi dan kawan-kawan tak mampu mengoyak jala gawang tamu. Markus Horison yang berdiri di bawah mistar gawang Indonesia patut mendapat acungan jempol, karena kiper berkepala plontos tersebut melakukan sejumlah aksi gemilang untuk menggagalkan beberapa peluang Oman.

Sementara itu, Indonesia yang lebih berkonsentrasi pada pertahanan juga memiliki kesempatan mencetak gol. Peluang terbaik dimiliki Boaz Salossa yang lebih dulu melakukan aksi individu sebelum melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti. Beruntung, penjaga gawang Ali Al Habsi mampu mengantisipasi dan menepis bola keluar sehingga hanya melahirkan tendangan pojok.

Indonesia tergabung di Grup B bersama dengan Oman, Australia dan Kuwait. Setelah melawan Oman, tim besutan Benny Dollo ini akan kembali ke Tanah Air untuk mempersiapkan diri menghadapi Australia di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1). (LOU)

Monday, January 19, 2009

Jangan Gentar Hadapi Juara Piala Teluk

Dalam beberapa jam ke depan, Indonesia akan mengawali kiprahnya dalam Pra Piala Asia 2011 menghadapi Oman di Sultan Qaboos Sports Complex, Muscat, Oman. Sebuah pertandingan yang cukup berat mengingat Oman saat ini berpredikat sebagai yang terbaik di antara negara – negara arab lainnya.

Prestasi kedua tim dalam sendiri, memang sangat bertolak belakang. Oman baru saja menjuarai Piala Teluk 2009 setelah mengalahkan Arab Saudi di final, Sabtu (17/1) lalu. Sedangkan Indonesia justru gagal meraih yang terbaik di kawasan regional ASEAN dalam AFF Championship 2008.

Jika melihat pada fakta yang ada, memang peluang Indonesia sepertinya sangat tipis untuk bisa mencuri poin di Oman. Bahkan Oman memiliki catatan rekor tidak pernah terkalahkan dalam delapan pertandingan terakhir sejak ditangani pelatih Claude Le Roy. Lawan yang dihadapi pun bukan sembarangan, diantaranya mereka mengalahkan Iraq, Bahrain, Qatar dan China. Dari delapan pertandingan tersebut pun, gawang Oman yang dikawal Al Habsi baru kebobolan satu gol saat menang 3-1 atas China Desember tahun lalu.


Namun, sejarah mencatat, Indonesia memiliki rekor yang bagus saat menghadapi tim – tim juara Piala Teluk.

Pada tahun 1996, Indonesia berhasil menahan imbang Kuwait 2-2 di laga perdana Piala Asia 1996 di UAE. Saat itu, Kuwait adalah juara Piala Teluk 1996 dengan mengalahkan Qatar.

Prestasi serupa berlanjut dalam Piala Asia 2000 di Lebanon. Indonesia yang diasuh pelatih Nandar Iskandar kembali membuat kejutan dengan menahan Kuwait 0-0 di laga perdana Piala Asia 2000. Jassem Al Houwaidi dkk saat itu begitu frustasi menembus pertahanan Indonesia yang bermain defensive dengan dikomandoi oleh Sudirman yang saat ini menjadi asisten pelatih Benny Dolo. Kuwait sendiri saat itu berpredikat sebagai juara Piala Teluk 1998. Sedangkan tahun 2000, Piala Teluk tidak digelar.

Prestasi paling gemilang terjadi pada Piala Asia 2004 di China. Indonesia mencatat kemenangan 2-1 atas Qatar yang merupakan Juara Piala Teluk 2004. Tragisnya lagi, kemenangan tersebut membuat pelatih Qatar, Phillipe Trousiere harus menerima pemecatan dari asosiasi sepakbola Qatar.

Sederetan fakta tersebut memang hanyalah catatan sejarah. Namun, hal itu menunjukkan bahwa tetap ada peluang bagi Indonesia untuk mengimbangi Oman dalam pertandingan nanti. Paling tidak, catatan tersebut bisa menjadi spirit bagi Charis Yulianto dkk agar tidak gentar menghadapi lawan yang memiliki kualitas lebih baik. (asp)


Friday, January 16, 2009

Timnas Indonesia Bekuk Al Shabab

Performa Tim Nasional (Timnas) Pra Piala Asia (PPA) 2011 terus menunjukkan grafik yang meningkat. Gambaran itu terlihat dari hasil uji coba yang dijalani oleh pasukan Benny Dollo jelang penampilan perdananya di PPA 2011 kontra tuan rumah Oman di Stadion Sultan Qaboos, Senin, 19 Januari 2009.

Setelah ditahan seri 0-0 oleh tim Legiun Asing Selection (6/1) dan menang 3-1 atas Pelita Jaya U-21 (9/1) pada uji coba di Indonesia, timnas kembali merebut kemenangan pada uji coba terakhir yang digelar di Muscat, Oman, Kamis, 15 Januari 2009. Kali ini, timnas menjajal kekuatan tim lokal Oman, Al Shabab.

Asisten Manajer Timnas, Chandra Solekan melalui pesan singkat yang dikirim ke VIVAnews mengatakan, timnas berhasil mengalahkan Al Shabab dengan skor 3-2. Uji coba digelar dibawah guyuran hujan dengan suhu hanya mencapai 14 derajat celcius.

Dua gol timnas berhasil dicetak oleh Bambang Pamungkas menit ke-35 dan 55. ' Sedangkan satu gol lainnya disumbangkan oleh Budi Sudarsono saat pertandingan baru berjalan 14 menit.

Chandra menambahkan, klub Al Shabab merupakan penghuni Divisi I kompetisi Oman. Empat pemain asing bercokol di tim itu. Masing-masing berasal dari Brasil, Tunisia, dan Senegal.

”Divisi I merupakan kompetisi paling tinggi di Oman soalnya di sini tidak ada Divisi Utama,” kata Chandra, Kamis, 15 Januari 2009. [marco tampubolon/vivanews]

Monday, January 12, 2009

Apa kabar Sepakbola Indonesia

Seorang sahabat di daerah jawa timur, suatu saat pernah aku tanya soal kenapa webnya tidak pernah di isi dengan tulisan yang berbau sepakbola nasional, terutama dnegan PSSI nya, jawabnya simple, Capek mas. “saya dah berkali kali menulis soal NH dan PSSi nya tetapi makin lama kondisi persepakbolaan Indonesia makin terpuruk, entah bahasa apa yang bisa menggambarkan keadaan ini. Bangun suporter itu nama web dia, beberapa bulan bahkan hamper satu tahu terakhir saya tidak melihat ada tulisan baru disana, padahal sebelumnya web ini adalah bacaan rutin saya selain web pak bambang. Setali tiga uang dengan web bangun supporter, Web dedengngkot blog wonogiri tersebut juga jarang sekali di Update.

Benarkah sepakbola Indonesia sudah tidak mempunyai daya pikat untuk ditulis, terpuruknya kondisi timnas, PSSI yang makin aneh statusnya, Regulasi kompetisi yang kacau dan selalu di undur – undur. Semakin membuat keengganan untuk menuliskan tentang sepakbola nasional. Tapi kalau bukan kita siapa lagi, demikian gumam saya, hitam putih nya sepakbola kita sebagai warga Negara Indonesia kita terutama saya tetap kan terus mendukungnya.

Kompetisi lokal yang diundur
Keanehan jadwal dari BLI membuat euphoria masyarakat pecinta bola nasional semakin terasa enggan untuk dating ke stadion karena tidak jelasnya jadwal, berkali – kali BLI melakukan hal yang serupa dari tahun ketahun, ketidak profesionalan ini membuat sepakbola Indonesia akan susah bersaing di tingkat internasional.

Timnas yang Minim Prestasi
Target timnas tahun ini gagal total, ketika mereka menargetkan untuk minimal masuk ke final Piala AFF namun di semifinal mereka kandas di tangan Thailand. Eforia merah putih yang hadir di senayan serasa tidak menjadikan timnas makin semangat, entah karena faktor ketidakjelasan kompetisi yang membuat hal – hal tersebut terbawa ke Tim nas. Menghadapi Australia tanggal 28 Januari nanti, GBK mungkin tidak akan terpadati oleh para supporter merah putih, tapi semoga saja tidak.

PSSI yang Tidak jelas Statusya
Dari awal tahun 2008 hingga akhir tahun 2009 Status NH yang tidak jelas makin memperunyam sepakbola tanah air. Exco seolah – olah ingin melegalkan NH menjadi ketua PSSi samapai akhir jabatannya, padahal jelas FIFA mengultimatum PSSI agar segera merevisi statutanya, sampai tahun 2009, sepakbola kita tidak jelas siapa “bapaknya” wajar jika sepakbola kita makin terpuruk

Sunday, January 04, 2009

Pertahankan Nurdin, Munaslub PSSI Dibuat Eksklusif

Berharap Nurdin Halid tetap menjadi ketua umum PSSI, rencana menggelar Munaslub dibuat eksklusif.
Oleh Yuslan Kisra
Meski batas waktu yang diberikan federasi sepakbola dunia (FIFA) kepada PSSI untuk segera menggelar musyawarah nasional luar biasa (Munaslub), guna melakukan pergantian kepengurusan yang sesuai dengan stuta FIFA telah lewat pada 24 Desember silam, otoritas sepakbola nasional sepertinya belum bergeming.

Bahkan dengan penuh percaya diri, sekjen PSSI Nugraha Besoes menyatakan optimistis tidak akan ada sanksi pa pun dari FIFA terhadap PSSI. Menurutnya, selama ini hanya media saja yang terlalu agresif memberitakan mengenai ultimatum FIFA. Padahal sesungguhnya tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan karena semuanya masih berjalan sesuai rule.

Hanya saja, induk organisasi sepakbola nasional mulai menerapkan pasal-pasal eksklusif yang terkesan kurang membuka kemungkinan pihak luar menjadi ketua umum PSSI. Salah satu pasal tentang pengurus PSSI yang diajukan ke FIFA, kabarnya menyebutkan, untuk duduk sebagai ketua umum, seseorang harus aktif dalam kepengurusan selama lima tahun secara beruntun. Hal tersebut merujuk pada article 32 composition dari FIFA.

Agak aneh memang karena sepertinya artikel ini sedikit dipelintir. Sebab dalam standar statuta FIFA sendiri sebenarnya tak menyatakan demikian. Sesuai dengan statuta yang diminta FIFA untuk diratifikasi oleh anggotanya itu hanya disebutkan, setiap calon anggota komite eksekutif (Exco) dan ketua umum pengurus organisasi di negaranya, harus pernah aktif di kepengurusan. Tapi tidak disebutkan batas minimal waktunya.

Dengan memberikan batas waktu selama lima tahun itu, secara otomotis bakal mengunci kesempatan bagi calon lain yang ingin menduduki kursi ketua umum PSSI. Terlebih calon yang berasal dari luar organisisasi terbesar di tanah air ini. Parahnya, karena kebijakan seperti itu sudah pasti mengembalikan Nurdin Halid menduduki kursi ketua umum, padahal FIFA tidak mengakuinya karena pernah terlibat kasus kriminal dan membuatnya dua kali mendekam di balik jeruji besi.

Tapi lagi-lagi pengurus harian PSSI berkilah jika persepsi tindakan kriminal yang berlaku di FIFA berbeda dengan kasus kriminal umum. Mereka bahkan dengan tegas menyatakan jika kasus korupsi yang dilakukan Nurdin tidak masuk kategori kriminal di mata FIFA. Sebab tidak terjadi di lingkup sepakbola. Dengan begitu, pria asal Makassar ini masih bisa kembali memimpin PSSI. Apalagi karena yang bersangkutan sudah bebas dari penjara.

Sikap "keras kepala" memang terus diperlihatkan PSSI terhadap ultimatum FIFA. Seolah tidak peduli dengan ancaman suspended dari otoritas sepakbola tertinggi di dunia itu, PSSI masih terus menari-nari dengan berbagai argumennya. Padahal FIFA telah menghapus nama Nurdin sebagai ketua umum PSSI, yang merupakan satu bukti keseriusan mereka untuk memberikan sanksi kepada sepakbola Indonesia.

Sunday, December 21, 2008

Indonesia Gagal Melaju Ke Final AFF Suzuki Cup 2008

Kandas sudah harapan Indonesia untuk melaju ke final AFF Suzuki Cup 2008 usai dikalahkan Thailand 1-2 dalam leg-2 Semi final di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (20/12). Ini merupakan kekalahan kedua bagi Indonesia dari Thailand dalam system home and away. Thailand sendiri memastikan diri tampil final setelah unggul agregat 3-1 atas Indonesia

Tampil dengan pola dan komposisi pemain yang berbeda dari sebelumnya, Indonesia sebenarnya mampu unggul lebih dulu pada menit ke-10 babak pertama melalui Nova Arianto. Kecolongan lewat gol cepat Nova tersebut, membuat Thailand langsung memborbardir serangan ke gawang Indonesia. Tim Indonesia yang kali ini menggunakan tiga stopper dalam formasi 3-5-2, harus jatuh bangun mempertahankan gawangnya dari serangan bertubi-tubi dari pemain Thailand.

Penampilan gemilang Markus Harison turut pula membantu Indonesia dalam mempertahankan keunggulan hingga usai babak pertama.

Di babak kedua, Indonesia tetap belum bisa keluar dari tekanan pemain Thailand. Praktis, tim asuhan pelatih Benny Dolo ini hanya mampu bermain bertahan. Sebaliknya dengan Thailand yang mulai melancarkan berbagai macam variasi serangan kewat umpan – umpan silang maupun tendangan jarak jauh.

Setidaknya dua tendangan bebas dihadiahkan wasit kepada Thailand akibat pelanggaran yang dilakukan pemain Indonesia beberapa meter dari kotak penalti. Beruntung tak satu pun yang berbuah gol.

Sebenarnya, di tengah tekanan yang datang bertubi – tubi, Indonesia masih sesekali melakukan serangan sporadis. Budi Sudarsono yang menerima umpan dari Mushafry berhasil mendekati gawang Thailand. Namun karena terlalu lama menahan bola, usahanya tidak terlalu mengancam gawang Thailand.

Tak lama berselang, giliran tuan rumah yang mengancam gawang Indonesia. Pada menit ke-66, Teeratep Winothai yang mendapat umpan jauh berhasil melancarkan tendangan keras di dalam kotak penalti Indonesia. Namun kali ini Markus dengan cekatan menepis tendangan Teeratep.

Namun, gol Thailand memang tinggal menunggu waktu saja. Pada menit ke-71, Teeratep Winothai akhirnya berhasil memperdaya keperkasaan Markus Harison setelah menerima umpan tarik dari Teerasil Dangda. Skor pun berubah menjadi 1-1. rubah menjadi 1-1.

Hasil imbang tidak membuat pemain Thailand berhenti melakukan serangan. berawal dari kemelut di depan gawang Indonesia, pemain Thailand, Ronnachai Rangsiwo berhasil menambah skor bagi timnya di menit ke-88. Skor berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Thailand.

Ketinggalan 1-2, Indonesia berupaya tampil menyerang. Perubahan taktik pun dilakukan oleh Benny Dolo. Ia memasukkan Irsyad Aras dan Arif Suyono sekaligus. Pola permainan berubah menjadi 5-4-1. Irsyad Aras ditempatkan di gelandang kiri, sementara Arif di gelandang kanan. Mereka diharapkan mampu melayani Bambang Pamungkas lewat umpan – umpan dari sayap. Namun, taktik ini tidak bisa berjalan sempurna karena pemain Thailand masih unggul dalam penguasaan bola. Hingga akhir pertandingan skor tetap tidak berubah, 2-1 untuk Thailand.

Skuad Indonesia :
Penjaga Gawang : Markus Harison

Belakang : Nova Arianto, M Roby, Charis Yulianto (c)

Tengah : Ismed Sofyan, Syamsul Chaerudin (Irsyad Aras), Ponaryo Astaman, Firman Utina, Isnan Ali

Depan : Budi Sudarsono (Bambang Pamungkas), Mushafry (Arif Suyono)

Thursday, December 18, 2008

Bakrie Brothers dan Efek Domino Sepakbola Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Terpuruk di sini. Sidoarjo ikut kena dampak krisis keuangan global. Yang menjadi korban terutama mereka yang sudah tergusur, tercerabut dari tanah tercinta, akibat tanah dan rumahnya terbenam lumpur panas Lapindo. Demo mereka ke Jakarta untuk menuntut pembayaran tuntas ganti rugi, nampaknya sia-sia. Fihak Lapindo berkilah, seperti dikutip oleh BBC, krisis keuangan global telah membuat pembayaran ganti rugi itu tersendat.

Radio BBC (19/11/2008) juga mewartakan hal lain : perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, Bumi Resources, sahamnya anjlok menjadi hanya sebesar Rp. 900-an per saham. Dalam sebulan, harga sahamnya terpangkas lebih dari lima puluh persen.

Lalu, apa hubungannya kedua berita buruk itu dengan sepakbola Indonesia ? Kedua perusahaan yang sedang bermasalah itu, baik Lapindo mau pun Bumi Resources, dimiliki oleh konglomerat Bakrie Brothers. Sedang salah satu pemilik konglomerat itu adalah Nirwan Darmawan Bakrie. Dalam peta sepakbola nasional ia boleh disebut sebagai orang kedua paling berkuasa, sesudah Nurdin Halid, dengan jabatan sebagai Ketua Badan Liga Sepakbola Indonesia (BLI).

Mental sepakbola melayu. Wartawan olahraga Kompas, Yesayas Octovianus (20/2/2006 : 31) pernah menyoroti peran dominan Nirwan di tubuh PSSI. Merujuk nama-nama pejabat yang menangani tim nasional dua tahun yang lalu itu, Yesayas menyebutnya sebagai “koncoisme” yang kental. Misalnya, untuk manajer timnas U-23, telah muncul nama Rahim Sukasah. Nama ini 15 tahun lalu adalah bos klub Pelita Jaya, yang tidak lain milik Bakrie Brothers juga.

Nirwan Bakrie, kita tahu, pernah membidani proyek mercusuar dengan Tim Primavera yang dibentuk di Genoa, Italia. Proyek ambisius ini disebut Yesayas sebagai proyek yang gagal total. Nirwan mengulangi lagi dengan mengirim timnas U-23 dengan pelatih yang eks pemain Pelita Jaya juga, Bambang Nurdiansyah, ke Belanda. Hasilnya ? Saya telah menulis surat pembaca dengan judul “Hancurnya Sepakbola Melayu” di Koran Tempo (22/11/ 2006) atau dua tahun yang lalu sebagai berikut :

Tim nasional Indonesia di bawah umur 23 tahun digunduli 6-0 di penyisihan sepakbola Asian Games 2006 di Qatar. Padahal mereka sempat berlatih 4 bulan, menghabiskan biaya 28 milyar rupiah di Belanda. Asisten pelatih Bambang Nurdiansyah seperti dikutip wartawan Kompas, Syamsul Hadi, yang ditanyai oleh BBC (20/11) mengabarkan bahwa Ferry Rotinsulu dan kawan-kawan itu bermain dengan “gaya sepakbola Melayu, bukan sepakbola Eropa.”

Apa yang ia maksud sebagai sepakbola Melayu ? Perlu penjelasan lebih lanjut. Yang pasti, dalam pertandingan tersebut dua pemain kita kena kartu merah dan enam pemain kena kartu kuning. Itukah cerminan “sepakbola Melayu” yang berarti pemain-pemain kita tidak mengindahkan peraturan bermain sepakbola yang berlaku secara universal ?

Tanggal 6/11/2006, di Solo, saya mewawancarai Ponaryo Astaman, kapten timnas senior kita, terkait pernyataan dia yang juga pernah dikutip oleh BBC. Kata Ponaryo, sepanjang menjadi pemain sepakbola dirinya tidak pernah sama sekali memperoleh sosialisasi mengenai pelbagai peraturan dalam bermain sepakbola.

Para pemain kita, ujarnya lebih lanjut dan bagi saya sangat mengherankan, mematuhi peraturan bermain sepakbola hanya berdasar pengalaman dan instink masing-masing pribadi, yaitu ketika mereka memperoleh hukuman dari wasit. Realitas yang memprihatinkan !

Hancurnya timnas U-23 di ajang Asian Games 2006 antara lain akibat hukuman dua kartu merah dan enam kartu kuning, walau mereka berlatih di Belanda 4 bulan sekali pun, hanya menunjukkan bahwa mengubah teknik dan mental pesepakbola kita bukan hal yang bisa dilakukan secara instan. Sikap mental suka ambil jalan pintas yang dianut para petinggi PSSI, terutama yang memiliki pendekatan bahwa uang menentukan segalanya, kini terantuk oleh bukti kegagalan yang benar-benar nyata. Uang bukan segala-galanya, Bung Nurdin Halid dan Bung Nirwan Bakrie. Selamat berintrospeksi.


Bitter taste of sugar daddy ! Ide-ide instan model Primavera di atas, tidak lain merupakan perwujudan sikap para sugar daddies, bos besar yang banyak uang, dalam mencoba meraih sesuatu prestasi. Upaya yang cenderung mengingkari hukum alam itu hanya memiliki satu konsekuensi yang pasti : kegagalan. Tetapi prestasi internasional memang bukan impian para petinggi PSSI itu. Tabloid BOLA (21/3/2006) mengutip pernyataan Nirwan Bakrie bahwa, “Inilah sepakbola, meski prestasi timnas kita kurang bagus, tetap saja liga tak pernah sepi.”

Ia mungkin memang benar, bahwa sepakbola kita nampak tak pernah sepi. Tetapi fondasi liga itu semata mengandalkan pada komporan sikap-sikap primordial. Fanatisme kedaerahan yang sempit. Suporter-suporter kita ibarat dipasangi kacamata kuda dengan kebanggaan tim daerahnya.

Mereka tidak tahu bahwa diri mereka ibarat boneka yang tali-talinya digerakkan dari Senayan, untuk keuntungan finansial yang mengalir kembali ke Senayan. Bila pun ada sepuluh atau seratus suporter yang mati konyol akibat bentrokan antarsuporter, hal itu dianggap sebagai hal yang “baik-baik saja” bagi rejim oligarki sepakbola Indonesia. Sepanjang industri sepakbola domestic itu mampu mengalirkan keuntungan kepada mereka.

Kini, akibat krisis finansial global, para sugar daddies sepakbola kita itu kelimpungan. Dalam posisi keuangan yang terhuyung itu maka peran dominan mereka di PSSI, diakui atau tidak diakui, cepat atau lambat, pasti juga memiliki dampak bagi persepakbolaan nasional kita. Domino pertama menunggu jatuh.

Berita lain, walau tidak langsung terkait, kita baca bahwa untuk menyelamatkan kelangsungan tim maka klub elit Persik Kediri sekarang ini bersiap menjual para pemain asing topnya. Dari klub yang sama, kita masih ingat berita mengenai upaya salah seorang pengurusnya yang mencoba melakukan bunuh diri. Bahkan mereka memutuskan untuk tidak mengikuti Copa Indonesia. Virus yang sama juga menyebar ke Solo. Karena dicekam kekuatiran tidak mampu membiayai keikutsertaannya, Persis Solo konon juga telah memutuskan untuk mangkir dari Copa Indonesia.

Sepakbola Indonesia kini gonjang-ganjing, dibelit banyak persoalan yang rumit. Di balik buih-buih busa bahasa hiperbola yang meluncur deras dari mulut-mulut reporter dan komentator sepakbola di ANTV, stasiun televise yang juga milik Bakrie, kini kuat diduga betapa bangunan keropos persepakbolaan Indonesia tinggal menanti rubuhnya saja.

Boleh jadi krisis keuangan global dewasa ini justru merupakan tsunami yang kita nantikan kedahsyatannya, berkahnya dan sekaligus manfaatnya bagi perubahan masa depan sepakbola Indonesia. Pencinta sejati sepakbola Indonesia, mampukah kita mencari inspirasi perubahan dari seorang bekas murid sekolah dasar di Menteng, yang bernama Barack Obama ?


Wonogiri, 19/11/2008

Sunday, November 30, 2008

Piala AFF di tengah situasi konflik

Piala AFF 2008 tinggal menghitung hari lagi, 5 Desember nanti, piala yang dihelat di 2 negara itu dimulai. Bertuan rumah di Thailand Dan Indonesia Piala yang disponsori oleh salah satu Pabrikan kendaraan Jepang ini blm terasa gaung nya hingga sekarang. Indonesia lebih beruntung dibanding Thailand, ketika Piala Asia Tahun kemarin, gaung yang tidak terasa hampir sama dengan sekarang, tapi lautan merah putih hadir memenuhi GBK senayan kala itu.

Sebenarnya yang menarik disimak apakah AFC memutuskan indonesia menjadi tuan rumah tunggal, atau tetap menyetujui Tuan rumah Thailand tetap menjadi tuan rumah setelah konflik di negara tersebut akhir akhir ini. Kabar terakhir persatuan sepakbola Thailand sudah memindahkan venue pertandingan kedaerah Pucket. Tinggal kita tunggu hasil dari AFC nanti.


Kalaupun jadi kita menjadi tuan rumah tunggal, mungkin sebuah keuntungan buat kita karena 100% akan bermain di depan ara suporter setianya. Akan tetapi, perlu diwaspadai juga dengan semangat Thailand. Keterpurukan keamanan politik di negerinya justru mungkin akan melecut semnagatnya untuk tampil ngotot. Seperti halnya irak tahun kemarin yang memenangi piala asia ditengah konfilk di negaranya.

Mampukah Indonesia memenangkan piala AFF untuk pertama kalinya?deraan konflik internal di tubuh PSSI, Bentrok antar suporter, pemukulan wasit, liga yang semakin atah berantah karena regulasi regulasi aneh dari BLI. Semoga ini bisa jadi pelecut BP dkk untuk memenangkan piala yang dulu bernama piala tiger tersebut

Data dan fakta Piala AFF dulu Piala Tiger


Hasil

Tahun

Juara

Hasil
(dalam kurung hasil
putaran pertama)

Runner-up

Tuan rumah

2007

Singapura

3 - 2 (2 - 1)

Thailand

Singapura dan Thailand

2004
(Detil)

Singapura

5 - 2 (3 - 1)

Indonesia

Vietnam dan Malaysia

2002

Thailand

2 - 2 (pen. 4 - 2)

Indonesia

Indonesia dan Singapura

2000

Thailand

4 - 1

Indonesia

Thailand

1998

Singapura

1 - 0

Vietnam

Vietnam

1996

Thailand

1 - 0

Malaysia

Singapura

Pencetak gol terbanyak


1