Showing posts with label Gresik United. Show all posts
Showing posts with label Gresik United. Show all posts

Tuesday, February 24, 2009

Praperadilan Tunggu Tiga Pihak

Bebasnya, Nova Zaenal dan Bernard Mamadou, tak serta merta menghentikan proses gugatan praperadilan yang diajukan tim pengacara keduanya. Sidang perdana kasus tersebut akan digelar Kamis (26/2) di Pengadilan Negeri (PN) Solo.

''Belum ada kejelasan diteruskan tidaknya masalah ini oleh kepolisian. Tapi kami sudah mendapat kepastian jadwal sidang perdana gugatan praperadilan Kamis (26/2) nanti,'' ujar Ketua Tim Advokasi Sepak Bola Indonesia (TASBI) Heru Buwono SH kepada koran ini.

Apabila kasus ini akan diteruskan oleh kepolisian maka pihaknya siap. Tapi apabila kasus ini dihentikan, Heru meminta kepolisian untuk segera mengeluarkan SP3.''Tapi, ada tidaknya SP3 dari kepolisian untuk menghentikan kasus ini, sidang praperadilan tetap berjalan, tinggal tunggu saja hasilnya,'' bebernya.

Terkait kelanjutan gugatannya, Heru menyatakan TASBI masih menunggu informasi dari tiga pihak. Ketiga pihak ini adalah Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI), Pengprov PSSI Jateng dan manajemen Persis serta Gresik United. ''Apakah gugatan praperadilan akan diteruskan atau tidak kami belum tentukan karena masih menungu koordinasi lagi. Kami juga menunggu kepastian dari kepolisian akan dilanjutkan tidaknya kasus ini,'' bebernya. [im/nan/ko/jawapos]

Tuesday, February 17, 2009

SEPAKBOLA INDONESIA KEMBALI TERANCAM

Lama terdengar gaung revolusi PSSI bergema, ketika itu tuntutan revolusi untuk kemajuan sepakbola Indonesia berkumandang dimana mana, Lupakan revolusi, lupakan mundurnya NH. Semuanya sudah seperti menggarami air laut karena akan sia sia. NH dan kroninya sudah menebar simpati ke kita semua dengan “mengiming-imingi” dengan menjadi tuan rumah piala dunia pada tahun 2018/2022 nanti. Seakan terbius dengan “rayuan” ini Menteri Adhiyaksa Dault secara tegas mendukungnya, padahal kita masih ingat maret tahun lalu ketika ia “mencerca” tentang kebobrokan sepakbola Indonesia dan NH.

Sepakbola yang sedang jalan ditempat ini dipaksa untuk berjalan setapak lagi kebelakang setelah kasus penangkapan Pemain Persis Nova Zaenal oleh kapolda jawa tengah Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo. Peran kapolda yang terlalu agresif ini setidaknya membawa kemunduran pada sepak bola kita.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Koran sloops, terlihat sekali kemunduran sepakbola kita kalau kapolda “ikut campur” berikut artikelnya

Komdis PSSI: KUHP tidak berlaku untuk sepakbola

Solo (Espos) Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Hinca Panjaitan, Jumat (13/2), menegaskan KUHP tidak bisa diberlakukan di arena sepakbola karena berlaku lex specialis.

Hinca menuding tindakan polisi melakukan proses hukum menggunakan KUHP terhadap pemain sepakbola yang terlibat pertikaian ketika pertandingan masih berlangsung, sudah melampaui kewenangan penegak hukum itu sendiri.
”Dalam hukum sepakbola seperti yang diberlakukan badan sepakbola dunia (FIFA) berlaku aturan Kode Disiplin Sepakbola dan The Law of The Game sebagai lex specialis. KUHP tidak berlaku. Itulah hukum sepakbola,” tukas Hinca saat dihubungi Espos.
Hinca menegaskan di lapangan sepakbola dan ketika pertandingan sedang berlangsung, yang berhak menghukum pemain hanyalah wasit. Pemain sepakbola yang sedang bermain tidak bisa dikriminalkan.
Oleh sebab itu dia mengimbau Poltabes Solo segera melepaskan Nova Zaenal (Persis Solo) dan Bernard Mamadou (Gresik United) karena tindakan penahanan kedua pemain tersebut sudah menyalahi peraturan.
”Kami mengimbau polisi segera melepaskan kedua pemain tersebut. Dalam waktu dekat kami juga akan segera menemui Kapolda Jawa Tengah (Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo—red), untuk berkordinasi. Kami akan menjelaskan seperti apa wewenang polisi dalam insiden seperti itu,” tegas Hinca.
Kedua pemain ditahan polisi setelah terlibat baku hantam dalam pertandingan Divisi Utama di Stadion Sriwedari, Kamis (12/2). Seusai pertandingan, Nova dan Mamadou langsung digelandang ke Mapoltabes Solo.
Ia mengakui kasus seperti ini baru kali pertama terjadi di Indonesia dan dinilainya sangat aneh. Dia menuding kepolisian sudah melangkah terlalu jauh dari kewenangannya. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Sekjen PSSI, Nugraha Besoes.
Dikonfirmasi terpisah, Direktur Kompetisi Badan Liga Sepakbola Indonesia (BLI), Joko Driyono mengakui usaha persuasif yang coba mereka lakukan sudah menemui jalan buntu. Oleh karena itu mereka akan mengikuti proses yang berlangsung, yaitu lewat jalur hukum.
Joko mengatakan akan mengirim manajer hukum BLI, Tigor Shalom, berangkat ke Solo, Sabtu (14/2) pagi ini. Nantinya mereka juga akan menunjuk penasihat hukum untuk mendampingi para pemain. Sebagai lembaga yang tempat bernaung para pemain sepakbola, BLI berjanji akan melakukan pendampingan penuh.
”Kami sudah berusaha menempuh jalan negosiasi. Tapi kepolisian ternyata tidak bisa dihadapi dengan cara persuasif. Ya sudah kami akan tunjuk penasihat hukum untuk menyelesaikan kasus ini melalui jalan persidangan di pengadilan,” kata Joko.
Joko juga membenarkan bahwa kasus seperti ini baru kali pertama mencuat di Indonesia. BLI akan terus memantau seperti apa masalah ini akan berlanjut. Namun dia berharap semuanya berakhir dengan baik. ”Memang insiden penganiayaan bukan delik aduan. Tapi kejadian seperti itu harus dilihat dari perspektif sepakbola, bukan hukum pidana, karena itu masih dalam koridor pertandingan.”
Joko khawatir kejadian ini bisa berimplikasi buruk bagi sepakbola Indonesia, terlebih penahanan itu juga melibatkan pesepakbola asing. Apalagi jika Mamadou sampai mengadukan kasus tersebut kepada FIFA. Seperti diketahui FIFA bersikap sangat keras jika pemerintah atau lembaga lain mengintervensi aturan sepakbola. - Oleh : yms

Friday, February 13, 2009

Persis vs GU rusuh, 2 pemain ditangkap

Laga Persis Solo melawan Gresik United (GU) pada lanjutan Liga Indonesia Divisi Utama di Stadion R Maladi Sriwedari, Solo, yang berakhir seri 1-1, Kamis (12/2), berlangsung rusuh. Dua pemain, Nova Zaenal (Persis) dan Bernard Mamadou (GU) ditangkap.

Kejadian tersebut sungguh ironis, karena tengah disaksikan oleh Kapolda Jawa Tengah, Irjen (Pol) Alex Bambang Riatmodjo, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Taufik Ansorie dan perwira polisi di jajaran Kepolisian Wilayah (Polwil) Surakarta serta Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Solo. Khawatir kerusuhan berlanjut, Kapolda memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa dua pemain yang terlibat bentrok.
Striker Persis Solo Nova Zaenal, pemain GU Bernard Mamadou, perangkat pertandingan (wasit dan asisten wasit) beserta pengawas pertandingan (PP) langsung diperiksa polisi di Mapoltabes Solo seusai laga.
Pada bentrok Wilayah Timur yang juga disaksikan Walikota Solo, Joko Widodo itu, kerusuhan dipicu oleh pertikaian Nova dan Bernard saat pertandingan kedua kesebelasan tengah berlangsung. Namun tak jelas siapa yang memulai keributan, karena ketika insiden terjadi mata penonton banyak tertuju di lapangan sebelah utara (ke arah bola). Sedangkan saat itu Nova dan Bernard berada di posisi selatan.
Wasit I Made Mudita dari Bali mengungkapkan saat terjadi insiden, dia tengah fokus ke pemain GU, Javier Rocha yang sedang terjatuh.
”Tiba-tiba ada pemain bersitegang. Saya ke asisten wasit I, Kustana dan dia juga mengatakan tidak melihat pemukulan. Kedua pemain itu langsung telah saya beri kartu kuning,” katanya. Sedangkan Nova mengungkapkan sebelum dipukul dia mendatangi Mamadao karena pemain asing itu tidak melakukan tendangan fair play seusai terjadi insiden kecil.
”Saat saya tegur, dia langsung memukul. Saya sempat emosi dan mengejarnya, tapi tidak sempat memukul karena langsung dilerai,” ujarnya.
Pemeriksaan kedua pemain tidak terlepas dari pernyataan Kapolda di stadion sebelum pertarungan kedua kesebelasan dimulai. Dia mengingatkan akan menindak tegas pemain, wasit, penonton atau siapapun yang memicu kerusuhan di lapangan. Kapolda menandaskan hal itu guna meningkatkan kualitas persepakbolaan di Indonesia.
Pertikaian antara Nova dan Bernard terjadi pada babak kedua ketika kedudukan sementara 1-0 untuk Persis. Keduanya memicu pemain lain belarian ke lapangan bagian selatan, di mana Nova tergeletak. Tak lama kemudian sejumlah aparat kepolisian yang menjaga ketat laga itu ikut melerai kejadian tersebut. Beruntung pendukung dari kedua kesebelasan masih tertib, tidak masuk lapangan, sehingga polisi tak direpotkan dengan keributan yang meluas.
Turun ke lapangan
Namun kejadian di tengah lapangan itu belum rampung, karena pemain kedua kesebelasan masih bersitegang. Akhirnya, Kapolda yang semula duduk di bangku VVIP langsung turun ke lapangan ikut memberi instruksi kepada anggotanya agar menganmankan kedua pemain yang terlibat keributan.
Nova yang memegangi pelipis kiri karena mengaku dianiaya Bernard sempat digelandang polisi untuk diamankan. Tetapi pelatih Persis Eduard ”Edu” Tjong yang mengetahuinya langsung berlari merebutnya dan menyuruh Nova melanjutkan permainan, karena pertarungan kedua kesebelasan papan bawah ini belum rampung.
Kubu kedua kesebelasan sempat protes atas tindakan polisi tersebut. Karena mereka menilai keributan itu masih di lapangan dan pertandingan masih berjalan. Namun Kapolda bersikukuh melarang pertarungan kedua tim dilanjutkan sebelum kedua pemain yang dinilai mengawali keributan diganti.
”Jangan dilanjutkan dulu sebelum kedua pemain itu diganti,” tegas dia.
Dia berpendapat pihaknya mempunyai wewenang menghentikan suatu pertandingan atau pertunjukan jika terjadi keributan. Karena dia tak ingin mendekati Pemilu ini stabilitas keamanan di Jateng terganggu.
”Saya sendiri sebenarnya pencinta sepakbola. Wong saya dulu juga main bola, tetapi saya tidak ingin setiap pertandingan ada kerusuhan. Saya ingin kualitas sepakbola di Indonesia meningkat,” tegas Kapolda.
Sementara itu Direktur Kompetisi Badan Liga Sepakbola Indonesia (BLI) Joko Driyono mengatakan PSSI akan melihat perkembangan kasus tersebut. Jika para pemain dihadapkan pada kasus hukum, maka PSSI, kata dia, akan menurunkan tim untuk melakukan penyelidikan di lapangan dan akan mendampingi mereka secara penuh.
Nova dan Bernard akhirnya tetap diperiksa polisi di Mapoltabes Solo. Bernard dibawa ke Mapoltabes didampingi Sekretaris Manajer GU, Jabir. Tak lama kemudian Nova menyusul ke Mapoltabes didampingi Sekretaris Manajer Persis Abraham ”Bram” EWT dan salah seorang Panpel, Sareh S dan Heri Isrianto.

Insiden Sriwedari

Insiden terjadi 20 menit jelang laga berakhir.
Tanpa diketahui jelas, pemain Persis Nova Zaenal tergeletak tak jauh dari pemain Gresik Bernard Mamadou.
Pemain kedua kesebelasan menghampiri lokasi kejadian.
Disusul saling kejar dan dorong.
Kapolda Jateng, Kapolwil Surakarta dan Ketum Persis turun ke lapangan untuk meredam situasi.
Kedua pemain tetap saling kejar dan dorong.
Puluhan petugas keamanan masuk lapangan, laga tertunda sekitar 10 menit. - Oleh : Iskandar, Dewan Wahyudi, Danang Nur Ihsan(espos)

Tuesday, January 06, 2009

Jadwal Putaran kedua Divisi Utama - Liga Esia

Jadwal putaran kedua mulai di helat tanggal 25 januari ini, dan persis baru berlaga pada tanggal 29 januari di sleman melawan PSS.
Pasoejak berencana melakukan Tour ke Sleman Untuk info Tour ke sleman Hubungi
Tejo 0856 9353 3809
Toni 0813 1796 8484


untuk melihat jadwal lengkap pertandingan seluruh TIM klik disini




1